Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Kamis, 02 Agustus 2012

THE MEANING OF T.R.Y.A.S

Suasana sore yang begitu indah membawaku menikmati perjalanan ini. Sore ini adalah hari pertamaku menempati tempat kos yang baru. Semoga kos yang baru ini membawaku ke suasana yang lebih baik dibandingkan dengan tempat kos lama. Kos lamaku memang tidak sejelek yang dibayangkan, ada kamar mandi dalam juga seperti kos baruku, cuma yang disayangkan kos lama itu sekamar berdua. Makanya tidak nyaman disaat ingin menyendiri di kamar, karena toh ada saatnya kita butuh dalam kesendirian. Contohnya kalau belajar, aku agak susah menyerap materi pelajaran kalau ada yang mengganggu walaupun ngga ada niat mengganggu tapi sama aja butuh suasana sepi untuk belajar.
Nah, kos baruku baru sekamar sendiri, dilengkapi dengan kamar mandi pula. Harapannya sih lebih nyaman dari kos yang dulu. Biar bisa belajar dan mengerjakan aktivitas kuliah dengan lebih baik.
Sampai di kos baru sepertinya sepi-sepi aja. Oh iya, hampir lupa, ini kan masih rangkaian libur semester. Tapi, besok aku ada sosialisasi untuk kurikulum baru. Padahal ngga berangkat juga ngga masalah sih. Ya, memang aku dikenal sama teman-teman katanya orangnya rajin, jadi ya berangkat aja karena sosialisasi ini juga penting untuk keberlanjutan kuliahku, sekalian nyobain kosan baru, walau cuma semalam.
Ngomong-ngomong soal kos baru, kebetulan aku dapat tempat kos yang baru aja dibangun, jadi masih fresh, ada bau cat tembok dan bau perabotan baru. Kata bapak kos, kosan ini memang dulunya udah pernah ditempati tapi untuk kosan cowok. Baru kali ini mereka menerima cewek sebagai penghuni kos. Dan kebetulan lagi aku yang memesan kamar no.1 alias depan sendiri, jadi dapat jendela yang paling gede yang bisa langsung lihat ke jalan.
Ternyata memang hari ini aku sendirian di kos baru. Teman-teman lain masih asik dengan liburannya. Malam pertama sendirian di kosan baru.
***
Kali ini aku benar-benar akan menempati kos ini, karena libur semester genap sudah berakhir, dan aku akan menyongsong semester 3, semester yang konon katanya para senior lagi sibuk-sibuknya.
Sebelum masuk ke kos, sudah banyak motor di parkiran. Ada apakah gerangan? Oh ternyata motor teman-teman penghuni kos juga yang sedang ospek, maklum dari 5 kamar di kosan ini, ada 3 orang mahasiswa baru, 2 orang termasuk aku yang mahasiswa lama beda satu tahun dari mereka.
Sehabis beres-beres kamar, aku keluar untuk melihat-lihat sekeliling kosan baruku dan menyodorkan tangan untuk menjabat ke salah satu anak yang sepertinya tinggal di kos ini.
“mba, kenalan dong? Aku tika.”
“aku ages.” jawabnya.
“oh, ages, darimana? Fakultas apa?” tanyaku penasaran.
“dari bekasi mba, fakultas biologi, kalo mba?”
“wah sama dong, aku biologi juga, asal purbalingga, angkatan baru ya?”
“iya mba, di sini banyak biologinya, jadi senang deh bisa buat tanya-tanya.”
“sama-sama aja lah, kita di sini harus saling membantu.”
Ages, teman kos yang pertama kenalan yang ternyata dia satu fakultas denganku tapi beda angkatan satu tahun. Dia menempati kamar pojok, atau kamar nomor 5. Ada lagi Yuyun, dan dia juga satu fakultas dan satu angkatan denganku dia menempati kamar tengah atau kamar nomor 3. Walaupun satu angkatan tapi aku juga baru kenal di sini, di tempat kos, memang kita beda kelas dan kita berdua bukan anak populer di kampus jadi sama-sama belum tau nama, hanya wajah yang kelihatan familiar.
Hari berganti hari, akhirnya aku kenal yang namanya Regi yang menempati kamar sebelahku, nomor 2, dia kuliah di jurusan keperawatan. Sementara di kamar nomor 4 ada Sisi yang kuliah di jurusan kimia.
***
Tiga bulan sudah aku tinggal di kosan ini. Kos yang akhirnya diberi nama T.R.Y.A.S, yang berasal dari huruf depan kami masing-masing. Dengan nama itu diharapkan persahabatan kita senantiasa terjalin dengan baik. Dan tiga bulan ini kebersamaan kita semakin terasa tatkala aku berulang tahun yang ke-20.
“mba tika, selamat ulang taun ya, nanti traktirannya mau dimana nih mba?” tanya regi yang terkenal dengan suara cemprengnya.
“makasih ya Gi, umm, nanti aku beliin ayam penyet aja gimana? Tapi temenin ya?” jawabku.
“nanti sama yun aja, soalnya yun sekalian beli pulsa.” Tiba-tiba si yuyun yang jawab. Memang dia seringnya kalau menyebut panggilan sendiri, bukan pakai kata aku atau saya, dia lebih sering pakai namanya sendiri, yun. Kata temenku di kampus kalau menyebut diri-sendiri saat berbicara dengan nama sendiri adalah orang yang manja. Wah, berarti si yuyun manja dong orangnya? Ya emang bener juga sih, sedikit agak manja, maklum anak terakhir, walaupun begitu dia sebenarnya orang yang paling tahu pertama tentang berbagai macam info di kosan, seperti tentang berita mati listrik, terus info bayar listrik, sampai berita mau ada fogging demam berdarah aja dia yang pertama kali tau diantara anak kosan yang lain. Sebenarnya sih  karena dia yang sering dikasih info paling pertama sama ibu kosan, makanya cepet.hehehe.
“oh, ya udah nanti kita pergi bareng aja yun.” Jawabku selanjutnya, sambil menghitung kira-kira berapa budget yang harus dikeluarkan untuk mentraktir mereka makan.
Setelah selesai sholat maghrib, aku dan yuyun akhirnya pergi membeli makan. Jam menunjukkan pukul 19:10 ketika aku pulang ke kosan kembali. Sebelum masuk ke kamarku, kok kamarku gelap, hanya ada cahaya redup yang samar-samar terlihat. Ini sudah terdeteksi, mereka akan mengerjai aku. Sebelum mereka sadar aku sudah mengetahui ini aku langsung masuk ke kamar sebelah atau kamar Regi dan menutup pintu hingga beberapa saat sampai mereka sudah malas akan memberi surprise kepadaku.
“mba buka dong, yah, mba ngga asik ah, orang mau dikasih surprise malah ngumpet.” Sisi akhirnya bicara di depan pintu.
“Kalian pasti mau ngerjain nih, udah ketahuan nih ye, hahaha.” Aku menimpali. Tapi akhirnya ku buka juga pintunya.
Pintu sudah terbuka. Dan mereka membawa kue tart buatku. Ternyata mereka memang akan memberi surprise, tetapi tidak berhasil. Maaf ya aku mengecewakan kalian. Karena ini mudah ditebak. Tapi terima kasih, tahun ini hanya kalian yang berupaya memberi surprise terhadapku. Begitu pula tahun-tahun setelah itu. Walau setelah itu kalian hanya memberi beberapa makanan sebagai simbol ultahku seperti donat bakar di tahun ke-2, lalu kue bolu di tahun ke-3 (momen ini tertulis di blog), tapi hanya kalianlah yang memberi arti di setiap ulang tahunku selama di Purwokerto. Nice moment.
***
Setelah momen ulang tahunku yang pertama bersama mereka terjadi, persahabatan kita semakin terjalin dengan rapi. Kita juga sering pergi berjalan-jalan ke pusat perbelanjaan walau dengan kendaraan umum alias angkot. Kita tidak segan-segan buat nunggu lama angkot dan berdesakan dengan penumpang lain, yang penting kebersamaan kita senantiasa terasa setiap saat. Selain jalan-jalan ke pusat perbelanjaan, kita juga sering berkaraoke ria sampai tenggorokan serak, demi melepas penat atau sekedar refreshing untuk menghilangkan beban-beban kuliah.
1 tahun telah berselang, kita mulai disibukkan dengan kegiatan kuliah yang super padat, aku juga sedang banyak tugas yang harus dikerjakan, mulai laporan praktikum, tugas kuliah, sampai tugas non akademik juga mulai berdatangan, karena aku mulai aktif di UKM kampus. Begitu pula yang lain, sisi yang juga anak HIMAKIM (Himpunan Mahasiswa Kimia) sedang sibuk-sibuknya menyiapkan kegiatan-kegiatan terkait yang harus dilaksanakan. Ditambah lagi dia sudah punya cowok, jadi agak jarang menetap seharian di kosan. Pernah juga dia sempat beberapa hari ngga nginep di kosan karena pulangnya terlalu malam. Padahal pintu kosan masih terbuka lebar untuknya.
Ages juga sedang sibuk sama kuliahnya dan main sama teman-temannya. Sering juga dia nginep di kosan temannya. Paling-paling yang masih stand by di kosan cuma Regi sama Yuyun. Regi sebenarnya paling ngga suka kalau sepi atau sendirian, kadang dia yang sering ribut sendiri kalau kosan sepi. Biar ngga terlalu sepi, dia sering ngajak teman-temannya main di kosan. Lain lagi sama Yuyun. Dia sukanya mengurung diri di kamar. Bukan karena malas bergaul atau acuh sama yang lain. Tapi dia seringnya bermain dengan laptopnya untuk online. Bahkan dia bisa seharian mengurung diri di kamar, padahal melalang buana di dunia maya. Tapi aku tahu kalau sebenarnya Yuyun seperti itu karena di kosan juga sepi, mau kemana-mana males karena tidak ada kendaraan, jadi lebih baik berkelana di dunia maya.
***
3 tahun berselang, suasana kosan semakin berbeda, terutama setelah ditambah kamar baru di atas sebanyak 5 kamar. Jadi total penghuni kos menjadi 10 orang. Sisi yang tadinya di kamar bawah pindah ke kamar atas karena kamar bawah sering bermasalah seperti bocor, banyak rayap, dan lain sebagainya. Yah, walaupun mesti nambah 1 juta buat sewa kamar atas selama 1 tahun.
3 tahun, bukan waktu yang sebentar, sepertinya persahabatan T.R.Y.A.S mulai mengalami keretakan, kita semakin jarang berkomunikasi. Aku yang sedang menjalani penelitian, lebih sibuk ke penelitian, apalagi kalau ada acara rapat UKM sudah pasti pulang kosan sampai larut, yang ada mereka udah pada tidur. Begitu pula Sisi, yang sejak menerima beasiswa Djarum dan menjadi bendahara BEM di kampusnya pastinya lebih intens dengan kegiatan-kegiatannya. Ditambah lagi Ages dan Regi yang lebih sering nginep di kosan temen daripada nginep di kosan sendiri. Bukan hanya itu Yuyun juga ikut-ikutan sering nginep di kosan lamanya. Intensitas komunikasi kita yang menyebabkan kerenggangan hubungan persahabatan kita ini.
Sangat terasa sekali saat kosan di huni oleh anak-anak baru. Mungkin karena kaget atau tak terbiasa jadi kita sering merasa terasing di kosan sendiri. Ada penghuni baru yang notabene mahasiswa baru dengan segala tingkah remajanya yang seringkali membuat kita kesal. Semakin lama semakin kita jenuh di kosan sendiri, semakin lama semakin terkotak-kotak antara kamar atas dan kamar bawah. Dan Sisi yang sekarang menempati kamar atas akhirnya mengirimkan sms seperti ini:
“Udah pada lupa ya sama aku, kok sekarang kayaknya kita ngga pernah kumpul-kumpul bareng, apa karena aku di atas jadi kalian juga udah ngga peduli sama aku. Aku minta maaf kalo ada salah”
Apa yang dikirim Sisi ke kita juga ada benarnya. Memang kita sudah jarang kumpul dan cenderung acuh tak acuh terhadap teman lainnya. Jadi akhirnya aku membalas sebisaku.
“Bukannya lupa sama kamu, mungkin kita dengan kesibukan masing-masing yang menjadikan tali silaturahmi kita sedikit merenggang, bukan cuma ke kamu, kita semua, TRYAS dan anak-anak baru. Kayaknya kita memang harus merencanakan sesuatu.”
Dan akhirnya kita merencanakan suatu acara gathering buat mempererat kembali tali persahabatan kita. Di acara itu kita memang cerita tentang masalah kita selama ini yang membuat kita semakin jauh. Dan masing-masing orang punya pendapat sendiri-sendiri.
“Sebenarnya aku cuma pengen kita kayak dulu, sering kumpul bareng, atau sekedar cerita-cerita bareng.” Sisi membuka percakapan.
“Ya, ini aku juga minta maaf karena mungkin kita sering miss communication jadi terkadang kita berprasangka negatif ke kalian. Aku sebenarnya sering nginep atau sering pergi bareng temen karena aku sebenarnya sepi sendirian di kosan, dan kebetulan ada temen yang ngajak pergi, jadi ya aku sering pergi.” Regi berpendapat.
“Aku juga sama kayak regi, aku juga minta maaf kalo sering agak nyuekin teman-teman, bukannya apa-apa, barangkali teman-teman sibuk, dan daripada aku ngeganggu kesibukannya kalian, jadi aku cenderung acuh.” Ages juga menambahkan.
“Sama, yun  juga kadang bosen di kosan, karena pada pergi semua, jadi ya yun juga ikutan kabur dari kosan buat ngisi kesepian.” Yuyun juga menguraikan alasannya.
Akhirnya aku juga menambahkan, “Ya intinya karena kesibukan kita, kesepian kita, dan ego kita selama ini yang membuat kita jadi jauh. Jadi dengan adanya kumpul sekarang diharapkan kita kembali dekat satu sama lain…”
Sebelum aku selesai ngomong si Regi memotong, “Tapi ya, sebenarnya kita butuh suatu agenda biar kita bisa rutin untuk kumpul sesibuk apapun kita.”
“Gimana kalo kita ngadain arisan aja, cuma berlima nanti dikocoknya setiap minggu. Gimana? Kan mau ngga mau harus ada yang bayar sama dapet arisan kan?” Usul Sisi.
“Wah betul tuh, moga aja bisa terlaksana, mulai minggu depan aja ya?” Ages menimpali.
Dan akhirnya setelah acara itu, kita tiap minggu kumpul untuk mengocok arisan kecil-kecilan. Dan memang dengan adanya kegiatan itu sepertinya membuat kita menjadi lebih akrab. Lalu, setelah sebulan berselang kita juga makin akrab dengan anak-anak baru, karena kita sedikit menurunkan ego masing-masing dan lebih intens untuk berkomunikasi satu sama lain.
***
T.R.Y.A.S, mungkin persahabatan kita ibarat sebuah kaktus, yang jika dirawat akan berwarna hijau yang menyejukkan hati tapi jika dibiarkan tak disiram dengan air komunikasi yang baik kelak durinya akan menusuk hati dan pikiran kita masing-masing. Kini setelah aku menginjak semester akhir perkuliahan, mulai terasa akan kehilangan kalian, kaktus berhargaku selama ini. Semoga kelak persahabatan kita takkan pernah pupus, walau kita sudah tak berada di satu tempat lagi. Semoga T.R.Y.A.S tetap menjadi kaktus yang selalu kita siram dengan air komunikasi dan pupuk persahabatan yang akan selalu bersemi hingga kita dipanggil oleh-Nya nanti. Amin.
***
The Meaning of  T.R.Y.A.S is some clauses to be a good friendship :
T     :    Tak Kenal Maka Tak Sayang
            Bagaimana mungkin persahabatan akan berjalan mulus jika kita belum mengenal kepribadian dari sahabat kita sendiri. Rasa sayang dalam persahabatan juga akan muncul jika kita tahu bagaimana sahabat kita mengenal kita dan bagaimana kita mengenal sahabat kita sendiri. Termasuk pengenalan karakter.
R     :    Rasakan Apa Yang Dirasakan Sahabat
            Seringkali sahabat menghadapi masalah yang pelik yang kita sendiri belum tentu tahu cara pemecahannya. Tapi setidaknya dengan mencoba merasakan apa yang dirasakan sahabat kita, kita akan sedikit tahu apa yang harus kita lakukan untuk memberikan solusi dari masalah yang sedang dihadapi sahabat kita.
Y     :    Yakin Akan Nasihatnya
            Memang tidak semua sahabat akan pintar bernasihat. Tapi setidaknya merekalah yang sering memberikan wacana dan solusi akan masalah kita. Dan terkadang tindakan kita sering disalahkan karena tidak sejalan dengan apa yang diwacanakan. Tapi sekali lagi yakinlah akan nasihatnya, karena nasihat sahabat baik adalah nasihat yang akan memberi kita ke jalan yang lebih baik.
A     :    Adaptasi itu penting
            Jika kita merasa sahabat hanya ada di suatu tempat yang dulu kita tinggali adalah suatu pikiran yang picik. Sahabat ada di sekitar kita dimanapun kita ada di dunia ini jika kita dapat beradaptasi dengan tempat yang sedang kita tinggali. Adaptasi ini maksudnya kita sedikit-sedikit dapat membaca apa kesukaan mereka, apa yang mereka inginkan dari seorang calon sahabat seperti kita. Asalkan tingkah laku kita harus disesuaikan dengan kemampuan kita dalam adaptasi ini. Jangan sampai membuat karakter kita hilang di mata mereka.
S     :    Sempatkan Berkomunikasi
Kadang kita terlalu terlena oleh kesibukan kita hingga kita sedikit jauh dengan sahabat-sahabat lama. Oleh karena itu, sempatkan berkomunikasi seperti telepon atau sms, atau sekedar say hello di Facebook, atau Twitter. Apalagi sekarang jejaring sosial sudah semakin banyak yang memberi peluang lebih besar kepada kita untuk berkomunikasi jarak jauh dengan sahabat-sahabat yang telah jauh.


Purwokerto, November 2011

Jumat, 04 Februari 2011

Cintaku Cinta Apa Adanya

“Perasaan ini telah jatuh terlalu dalam. Aku tahu kita beda. Mungkin kamu terlalu spesial untuk ku miliki. Dan perasaan ini bukan semata-mata karna rasa iba terhadapmu. Namun, dari nuraniku kuselipkan seribu angan tuk bisa bersanding denganmu.”

Arga Saputra

Maaf aku nambah coretanmu di sini

Sebenarnya agak geli juga nembak cewek pake tulisan seperti itu. Tapi mau gimana lagi si Dia beberapa hari ini nggak pernah muncul. Aku jadi penasaran apa yang sedang dia lakukan sekarang. Semoga Dia dalam keadaan sehat. Dia adalah Almira, sebut saja Mira. Cewek yang aku kenal di tempat bimbingan belajar ini. Cewek yang membuat aku bersemangat kuliah dan semangat untuk menjalani hidup yang indah ini. Mira adalah cewek yang pintar, pandai berbicara dan berpendapat,dan mempunyai kegigihan dalam berusaha, serta bukan cewek manja yang cuma pengen diajak jalan-jalan kesana kemari menghambur-hamburkan uang. Ini adalah sosok cewek yang aku idam-idamkan selama ini.

Saat itu aku terkejut membaca coretan di bukunya bahwa dia tengah menderita sakit. Mira adalah seorang Thalasemi, penderita Thalasemia. Thalasemia seperti yang kuketahui adalah penyakit kelainan darah dimana produksi eritrosit dan hemoglobin dalam jumlah yang tidak sebanyak orang normal. Ini adalah penyakit yang cukup serius. Aku memikirkan bagaimana memiliki pacar yang sakit seperti ini. Tapi hati ini berbanding terbalik dengan pikiranku. Ketika aku mengetahui fakta ini justru perasaan ini makin kuat bersemayam di hati ini. Maka ku putuskan untuk menyatakan cintaku kepada Mira lewat buku yang aku pinjam ini.

Sore ini ada jadwal bimbel, dan semoga Mira berangkat bimbel juga. Karena sudah dua kali pertemuan dia tidak menampakkan diri. Dan ternyata benar dia berangkat. Aku mengembalikan buku catatannya yang aku pinjam dan sekaligus berharap dia membaca coretanku diantara coretan tentang dirinya di buku itu. Pertemuan berikutnya aku melihat wajahnya cukup muram kepadaku. Mungkin dia marah kepadaku karena aku telah membaca tulisannya yang seharusnya milik pribadinya. Atau mungkin karena aku menambahi coretan di bukunya tersebut. Karena terlalu penasaran maka setelah selesai bimbingan aku menanyakan kepadanya tentang tulisanku tersebut. Seketika dia menitikkan air mata. Lalu jatuh pingsan. Aku bingung, dia marah atau sedih atau senang. Dan rasa penasaran ini belum terjawab sampai kemudian keluarganya datang dan khawatir akan keadaannya lalu memintaku memanggil ambulans untuk membawanya ke rumah sakit.

Mira telah masuk ke ruang gawat darurat lalu kemudian aku diberondong pertanyaan oleh keluarganya kenapa Mira bisa pingsan mendadak seperti itu. Aku menceritakan semuanya kepada keluarganya tentang coretan rahasia di bukunya dan juga tentang coretanku yang menyatakan cinta kepadanya. Sekarang keluarganya memaklumi kenapa Mira bisa pingsan. Ya, karena aku menambah coretan di bukunya tersebut. Dan Akhirnya mereka menceritakan semua tentang Mira kepadaku.

Mira adalah anak bungsu dari 3 bersaudara. Mira dilahirkan karena memang orang tuanya menginginkan anak perempuan. Kedua kakak laki-lakinya memiliki sel darah yang normal, orang tuanya juga bukan penderita Thalasemia, tapi kenapa Mira bisa mengidap penyakit tersebut? Penjelasan dari orangtua Mira menyatakan bahwa ternyata dokter salah mendiagnosis penyakit yang diderita oleh Ayahnya Mira. Awalnya beliau didiagnosis menderita anemia biasa. Namun, setelah kelahiran Mira yang terdiagnosis Thalasemia sejak umur 5 bulan, Ayahnya pun terdiagnosis sebagai carier/pembawa penyakit ini dari orang tuanya. Mira harus meluangkan waktu untuk transfusi darah setiap sebulan sekali. Dan mungkin itulah yang membuat Mira sering tidak masuk bimbel karena sedang transfusi darah di rumah sakit. Tapi walaupun begitu, orangtuanya tetap tidak menjadikan Mira sebagai anak emas atau anak yang istimewa. Hanya 1 hal yang dilarang oleh keluarganya adalah Mira tidak boleh jatuh cinta kepada lawan jenis, artinya Mira tidak boleh pacaran. Orangtuanya takut ketika kelak Mira menikah dengan seorang pria normal maka akan beresiko memiliki keturunan seorang Thalasemi juga. Karena memang penyakit ini adalah penyakit genetis yang diturunkan dan semakin lama prevalensi Thalasemia ini di Indonesia juga semakin meningkat.

Setelah mengetahui bahwa Mira dilarang berpacaran, ternyata aku tahu dia pingsan karena aku telah menyatakan cinta kepadanya. Maafkan aku Mira, aku terlalu mencintaimu. Memang keluarganya sedikit tidak setuju jika Mira punya pacar. Tetapi Mira juga remaja biasa dan cewek pada umumnya juga pasti akan menyukai lawan jenis. Maka keluarganya pun memaklumi, dan menanyakan kesanggupanku menerima Mira apa adanya. Dan memang aku telah menyanggupi dari lubuk hati yang paling dalam akan menjaga Mira bagaimanapun keadaannya.

Dokter telah memeriksa Mira dari ruang gawat darurat. Ternyata Mira pingsan selain karena coretanku di bukunya tersebut memang Mira harus mendapat transfusi darah lagi. Dokter mempersilakan Mira untuk dijenguk keluarganya. Ketika itu aku ikut masuk ke ruangan dan melihat Mira terbujur lemah di tempat tidur. Namun dia telah sadar dan ketika melihatku raut mukanya menjadi sedikit takut. Memang benar dia takut kepada orang tuanya yang melarangnya memiliki pacar. Namun setelah aku menceritakan aku akan menerimanya apa adanya, bagaimanapun keadaannya, orang tuanya setuju Mira dapat berpacaran denganku. Dan Mira pun menerimaku menjadi pacarnya. Hari-hari pun kulalui bersamanya. Merajut jalinan cinta yang indah tanpa mengistimewakan keadaannya yang sedang sakit.

Beberapa tahun kemudian aku menikahi Mira. Setelah itu Mira hamil dan melahirkan seorang bayi laki-laki normal yang sehat. Namun Mira meninggal dunia setelah melahirkan karena kehabisan banyak darah. Aku sangat sedih dan terpukul atas kehilangan istriku tercinta. Namun kesedihanku sedikit terobati karena aku telah memiliki anak laki-laki normal buah cintaku dengan Mira yang seorang Thalasemi. Memang keputusanku menjalin cinta dengan Mira tidaklah salah, cinta yang berasal dari lubuk hati yang paling dalam adalah cinta yang abadi, dan cinta apa adanya berbuah manis pada akhirnya. Terimakasih Mira, kau telah memberiku banyak pelajaran berharga di dunia ini, terutama bagaimana kita harus memaknai arti sebuah hidup dan mensyukuri anugerah dariNya. Cinta ini kan selalu ku dekap sampai ku pergi menghampiri surgaNya. Sebuah cinta yang apa adanya.


Dipublikasikan pada : Buletin Blue Science UPI Fabio Unsoed 2010

Minggu, 20 September 2009

LENSA RAMADHAN KEILMUAN

Hawa dingin saat ini tengah merasuki seluruh tubuh manusia. Tak terkecuali ragaku yang terbujur kaku merasakan betapa dinginnya malam ini. Namun, sang empunya aku masih berbaik hati menyelimutiku dengan baju hangat. Mataku masih buta dan sekelilingku masih dipenuhi kegelapan. Aku berada di ruang sempit tempat penyimpanan benda-benda berharga manusia. Ya, aku bukanlah apa-apa, hanya sesuatu yang memiliki konstruksi mata seperti manusia. Tapi masih tak sehebat mereka sebagai ciptaan Tuhan. Kemampuanku hanyalah melihat dan merekam segala bentuk tingkah laku manusia, otakku hanyalah sebuah memori kecil yang dapat dikosongkan mereka sewaktu-waktu, karena otakku terbatas. Namun, manusia membutuhkanku. Mereka dapat tertawa bahagia karenaku, mereka dapat pula menangis sedih tatkala melihat apa yang aku hasilkan. Sama seperti keilmuan yang mempercayakanku merekam segala bentuk kegiatan mereka. Tapi kebetulan mereka belum pernah melihat hasil kinerjaku dengan menangis.

Sepertinya malam ini otakku akan dikosongkan kembali oleh sang empunya aku yang merupakan anggota keilmuan. Mataku masih tertutup, tetapi aku bisa merasakan sekeliling tubuhku telah bermandikan cahaya lampu neon. Aku pun merasakan kabel tertanam dalam tubuhku, lalu segala bentuk kinerjaku selama ini berpindah ke dalam sebuah mesin canggih yang melebihi diriku. Dan mataku terbuka, ku merasa otakku dibersihkan hingga tak ada sisa-sisa memori melekat dalam otak kecilku. Aku kembali dalam cahaya kegelapan.

Bulan ini adalah bulan penuh berkah bagi manusia, bulan yang mereka sebut ramadhan. Bulan ini juga bulan penuh berkah bagi jenisku karena kinerja kami banyak dibutuhkan untuk merekam semua kegiatan manusia. Dan, terjadi pada saat momen-momen langka sepanjang bulan ini. Hari ini mungkin kinerjaku jelas akan diuji karena keilmuan akan mengadakan buka puasa bersama.

Sebelumnya, aku merasakan sang empunya aku membawa diriku mondar-mandir di tempat ini. Mungkin dirinya sedang galau menanti teman-temannya memenuhi janji mereka bersama hari ini. Aku dapat merasakan sinar senja mentari yang menembus masuk ke dalam tempatku berada saat ini. Tak lama kemudian ku merasa ada goncangan hebat melanda bumi yang dipijak manusia ini. Sayup-sayup ku mendengar para manusia berteriak “gempa..gempa..ada gempa..”. Gempa?? Apa itu gempa, apa mungkin goncangan hebat ini yang mereka teriakkan? Ya, gempa adalah kosakata baru yang akan kumasukkan dalam kamus hidupku di dunia manusia. Gempa memang tengah melanda bumi pijakan manusia yang bersumber dari pergeseran lempeng bumi mereka. Tak ada yang menyangka bumi ini bergoncang di bulan pennuh berkah ini. Mungkin Tuhan sedang memperingatkan sebagian kecil dari mereka untuk menunjukkan kesetiaannya kepada sang Penciptanya. Seperti kesetiaanku kepada sang Penciptaku, manusia. Ku senantiasa berada di sisi manusia, tuk penuhi kebutuhan manusia, walau terkadang beberapa dari mereka menyakiti diriku dan teman-temanku sehingga kinerjaku tak berkualitas.

Goncangan gempa tak menyurutkan niat anak-anak keilmuan untuk memenuhi janji mereka, buka puasa bersama. Walau ada diantara mereka yang tengah berduka karena musibah tersebut. Tempat tujuan telah ditentukan. Dan mereka membawaku menyusuri perjalanan ketempat tersebut. Hawa dingin kembali merasuki dunia manusia hingga tubuh luarku pun dapat merasakannya. Awan hitam di langit pertanda sang Maha Cipta akan memberikan kasihnya kepada manusia berupa tetesan air sebagai pelarut penat mereka. Sampailah kami di tempat tujuan, Kabayan. Ya, nama itulah yang mereka sebutkan. Tempat ini adalah tempat mereka melepas tenggorokan mereka dari jerat tali yang mengikat selama mereka melaksanakan puasa di bulan penuh berkah ini.

Anak-anak keilmuan telah memilih tempat duduk yang dirasa paling nyaman untuk menghabiskan buka puasa hari ini dengan nikmat. Pilihan menu-menu menarik telah tersedia. Namun, mereka masih kebingungan tentang apa yang harus mereka pilih. Bingung karena mereka memperbandingkan harga dan rasa. Tak berapa lama kemudian mereka memutuskan pilihan apa yang akan membuat mereka terbebas dari haus dan laparnya tubuh mereka seharian. Aku masih tidak habis pikir kenapa saat menunggu makanan datang mereka tidak mempekerjakan aku untuk merekam momen-momen mereka saat itu. Apa mungkin mereka tidak sadar akan kehadiranku di sini? Sungguh nasib jadi benda mati yang tak sering disadari keberadaannya.

Dan makanan yang diimpi-impikan pun datang. Sayang, aku sangat berbeda dengan manusia dalam hal mengkonsumsi energi. Kalau aku diberi kesempatan untuk mengkonsumsi energi layaknya manusia, maka aku akan melahap semua makanan yang disajikan tersebut dengan cepat melebihi kecepatan lahapan manusia. Sungguh hal yang mustahil.

Di akhir lahapan mereka, akhirnya ada yang menyadari akan keberadaanku di sini. Kemudian kinerjaku mulai ku perlihatkan kualitasnya. Mereka sangat bahagia akan hasil kinerjaku di sini. Di tengah-tengah ku bekerja, terdengar suara-suara musik amatir yang menggema di telinga manusia, suara nyanyian pun terdengar di mulut sekelompok pemusik tersebut. Ternyata mereka mereka adalah para pelayan tempat makan tersebut yang memberikan surprise kepada para pengunjung yang berulang tahun di bulan ini. Dan para pemusik tersebut menghampiri tempat makan di samping kami. Tak disangka, setelah menyelesaikan ritual ulang tahun di samping tempat kami, lalu kelompok pemusik tersebut mendatangi meja kami untuk memberikan surprise ulang tahun salah satu anak keilmuan. Tak ayal mereka kebingungan mencari siapa yang berulang tahun bulan ini karena memang tidak ada yang merasa umurnya bertambah bulan ini. Tapi momen lucu bercampur bahagia ini tak mereka sia-siakan untuk mempekerjakan aku merekam kejadian ini.

Sekali lagi aku melihat kebahagiaan mereka akan hasil kinerjaku. Canda, tawa, riang gembira, telah menghiasi suasana hati dan laku mereka. Memang mereka selalu bahagia jika bersama-sama layaknya sebuah keluarga. lensa ku pun menjadi saksi bisu akan kebahagiaan keluarga keilmuan di bulan ramadhan penuh berkah ini. Masih ada momen-momen indah lainnya yang menanti diriku untuk membuktikan bahwa mereka bangga dan bahagia akan hasil kinerjaku. Karena keilmuan telah memberiku moto hidup, bangunlah keluargamu dengan senyum dan semangatmu. Semangat kebersamaan serta senyum keceriaan mereka membuatku untuk tetap bertahan hidup di sisi mereka.

RELAKANLAH

Keindahan panorama alam di sore hari menyejukkan mataku yang lelah, Angin bertiup kencang menghempas kaca helmku, pelukan tangan hangat dari sang kekasih membelai pinggangku. Tak disangka keadaan ini tak berlangsung lama. Tatkala Aku menyalip Kijang yang melaju dengan kecepatan yang lebih pelan dari motorku, dari depan terlihat sebuah truk yang melaju cukup kencang dan sepertinya tak menghiraukan sesuatu didepannya. Celaka nian saat Aku dan Tyas, kekasih baruku, berada di posisi yang terjepit ini.

”Arko..awas truk!!!” teriakan Tyas makin membuatku bingung.

Sontak aku mencoba mengerem laju motorku, Tyas pun menjerit ketakutan. Dan kecelakaan itu pun terjadi. Aku terpelanting ke luar dari bahu jalan dan mendarat di sebuah pekarangan rumah orang,sekilas Aku melihat motorku remuk berantakan di bawah truk, dan Aku pun melihat Tyas bermandikan darah tak jauh dari truk. Tak lama kemudian Aku tak bisa merasakan apa-apa, bayangan hitam menyelimuti arah pandang mataku, dan semuanya pun menjadi gelap gulita.

***

Embun pagi tak terasa tlah membasahi wajahku, kicau burung nan indah tak henti-hentinya menambah kesejukan pagi ini. Hari yang cerah setelah satu minggu menempuh orientasi mahasiswa yang dikenal dengan OSPEK, suatu ajang unjuk kebolehan para senior mempermainkan juniornya. Akhirnya, hari ini datang juga, hari kebebasan. Tak ada lagi terdengar makian dan umpatan para senior yang menyebalkan itu. Hari ini hari pertama Aku memulai perjalananku di bangku kuliah. Tempat dimana banyak anak-anak muda sekarang membangun jati diri mereka sebenarnya.

Kupacu sepeda motorku dengan kecepatan sedang, tak berapa lama sampailah Aku di kampusku yang baru. Banyak mahasiswa baru yang belum percaya dengan lingkungan ini, termasuk Aku, Aku masih merasa canggung berada di kampus ini. Tapi inilah tempat yang dinanti-nanti setelah Aku lulus kemarin.

Saat aku masuk kampus ditelingaku terdengar seperti ada yang memanggil namaku. Oh ternyata Sandy, teman OSPEKku kemarin.

”Arko, apa kabar hari ini, Sob?” seru Sandy.

“Baik banget San, udah bebas nih sekarang, nggak ada lagi gangguan para senior.” jawabku.

”Husssh...jangan keras-keras ntar kalau ada senior yang dengar gimana? Bisa mampus kita.” ungkap Sandy.

”Ah, udah lah ngga usah dipikirin, senior udah ngga punya hak buat nggangguin kita. Udah lah ayo masuk kelas. Kita ngambil mata kuliahnya sama kan?” ajakku.

”Iya lah, mahasiswa baru semuanya juga ngambil mata kuliahnya sama. Ayo ah!” tukas Sandy.

Saat memasuki ruang kelas, sudah terlihat anak-anak baru berdatangan menunggu kuliah pertamanya. Aku dan Sandy memilih bangku paling belakang. Tak lama setelah itu, seorang cewek dengan tubuh langsing dan pakaian yang rapi menghampiriku.

”Sory Mas, tempat ini kosong kan?” tanya cewek itu.

”Eh iya Mba, ini kosong kok.” jawabku.

”Boleh saya duduk di sini?” pintanya.

“Oh tentu, silakan.” tukasku.

Sepintas cewek di sebelahku ini biasa-biasa saja. Tapi kalau dipandang lekat-lekat, lumayan manis juga. Basa-basi dulu deh.

“Hmmfh...kuliah pertama semoga dosennya menyenangkan.” kataku membuka topik pembicaraan.

“Iya nih kalau dosennya killer gimana?” jawab Sandy.

Aduh, bukan jawaban Sandy yang aku harapkan, tapi cewek ini. Tak berapa lama kemudian cewek ini juga mengatakan sesuatu.

“Yah, pemikiran pertama aja udah buruk, gimana ntar ngejalaninnya. Contoh donk Mas ini. Maaf Mas namanya siapa?”

Wah, kebeneran nih, dia yang ngajak kenalan dulu, nggak perlu repot-repot cari kata-kata nih.

”Oh saya Arko dari Temanggung dan ini teman OSPEK saya, Sandy dari Surakarta.” jawabku.

”Saya Tyas dari Jogja. Ternyata kita orang Jawa semua ya?” jawab Tyas.

”Hahaha....Emang Universitas ini lakunya cuma sama anak Jawa, mana mau orang-orang metropolitan kuliah di sini. Ini kan Universitas ndeso.” Sandy berkata.

”Eh, jangan kayak gitu San, orang Jakarta juga ada yang kuliah di sini kok, buktinya temen OSPEKku, si Maria kuliah di sini, dia kan anak Jakarta.” tukas Tyas.

”Ehm bener juga kata Tyas San, nggak semua orang metropolis nggak mau kuliah di sini, mungkin anak-anak yang kuliah di sini itu bukan buat main-main. Kuliah ya kuliah, buat menuntut ilmu, bukan buat ajang pamer.” kataku

”Haha..bener banget Ko, bijak banget sih kamu.” jawab Tyas.

”Bijak..baru pertama, nih cewek udah ngatain Aku bijak, jadi GR nih.” pikirku.

”Iya deh Aku salah, emang nggak semua anak metropolitan punya pikiran yang sama kok. Eh, tuh dosen udah dateng. Dengerin..dengerin.” sela Sandy.

Itulah obrolan pertamaku dengan Tyas. Dari sinilah wangi cinta menuntun langkahku untuk terus mendekati cewek manis ini. Pertemananku dengan Tyas sudah lebih dari satu semester. Di semester dua ini aku berniat untuk menjadikannya sebagai seorang kekasih.

Sepertinya moment penembakan cukup bagus ketika ada pengumuman akan diadakannya Camping Campus yang dikhususkan untuk mahasiswa baru. Saat inilah Aku akan menyatakan cintanya kepada Tyas.

Acara Camping Campus merupakan acara yang paling dinanti-nanti mahasiswa baru karena ini merupakan acara untuk ber-refreshing setelah berhari-hari berkutat pada kuliah, tugas-tugas, praktikum, dan laporan, hal-hal yang membuat anak-anak baru yang belum terbiasa akan mengalami kejenuhan. Acara ini seru abis, mulai dari sekedar ngingetin kita udah jadi mahasiswa, ada debat kelompok, ada juga games, serta buat nambah kekompakan antar mahasiswa baru, ada outbond juga.

Malamnya, kita ada acara keakraban antar mahasiswa baru, di sini kita dapat mengekspresikan semua yang kita punya dan kita inginkan. Sepertinya inilah waktu yang tepat untuk mengatakan perasaanku ke Tyas. Setelah ini adalah giliranku berekspresi. Aku harus bersiap-siap nih, Aku mengambil bunga mawar putih yang kemarin tak lupa ku selipkan di tas ranselku.

”Teman-teman, malam ini Saya hanya akan mengekspresikan perasaan Saya kepada seseorang diantara kalian. Saya sudah memendam perasaan ini sejak lama, sejak kita bersama-sama menginjak bangku kuliah untuk pertama kalinya. Dia gadis yang cantik, manis, baik dan ramah. Semua orang pasti menyukainya. Baiklah mawar putih, tuntunlah diriku menemui sang gadis itu.”

Aku menyusuri kerumunan orang-orang yang melihatku dan bertepuk tangan tatkala Aku menyerahkan mawar itu kepada Tyas. Tyas sontak kaget melihatku menyodori mawar putih itu. Tapi hatiku tak goyah, aku tetap mengatakan perasaanku.

”Tyas, sudah lama Aku memendam perasaan ini kepadamu. Bersediakah Kau menjadi kekasihku. Jika ya, ambillah mawar putih ini, jika tidak buang mawar putih ini dari hadapanmu.”

Aku menutup mata dan berharap Tyas menerima mawar putih ini. Ternyata benar, Ia mengambilnya.

”Aduh Arko, kalau kamu mau tahu, kamu adalah orang pertama yang berani mengatakan cintanya kepadaku. Aku juga sangat senang bisa berkenalan dengan kamu. Perlu kamu tahu juga, Aku juga sudah lama suka sama kamu. Makasih ya Arko.”

”Makasih juga, Sayang.”

Riuh rendah tepuk tangan menggelora di sekeliling kami. Hatiku rasanya campur aduk antara perasaan senang, malu, dan lain-lain. Akhirnya, Aku bisa juga menyatakan cinta ke Tyas, semoga ini awal yang baik untuk memulai perjalanan cintaku dengan Tyas.

Saat kembali ke kampus, banyak anak-anak yang bersorak sorai melihat kita berdua jalan di depan mereka. Tak masalah bagiku, sepanjang mereka tak berbuat jahat yang dapat memutuskan tali cinta kita.

Sudah 2 minggu Aku dan Tyas berpacaran. Mengingat besok adalah hari libur, hari ini Aku akan mengajak Tyas pergi jalan-jalan ke taman kota. Aku menjemput Tyas di kos-kosannya sekitar pukul 4 sore. Di tengah perjalanan, kecelakaan maut itu pun terjadi, yang kupikirkan hanyalah Tyas yang tergeletak tak jauh dari Truk itu, sesaat terlihat sebelum Aku tak sadarkan diri.

Aku tersadar telah berada di sebuah tempat tidur di rumah sakit dengan luka yang menggigiti seluruh tubuhku. Di sekelilingku ada teman-teman kuliah, kedua orang tuaku dan beberapa saudara-saudaraku tersenyum melihat aku membuka mata.

”Alhamdulillah, Arko. Kamu sudah siuman. Istirahat dulu ya, Nak.” Ibuku berkata.

”Bu, mana Tyas, Aku ingin menemuinya Ibu, Aku ingin meminta maaf kepadanya atas semua kejadian ini.” kataku.

”Tyas, dia....” Ibuku memutus kalimatnya.

”Dia kenapa Bu?” tanyaku

”Ehm, Arko..Tyas sudah tiada, Ko.” kata Sandy.

”Apa? Bohong kamu San? Bu, Tyas ada di mana sebenarnya?” pintaku butuh kejelasan.

“Sandy benar Ko, Tyas sudah dipanggil Yang Kuasa. Dia meninggal di tempat kejadian sewaktu kalian kalian kecelakaan.” jawab ibuku.

”Nggak mungkin, kenapa tidak diriku saja yang kau ambil ya Tuhan, kenapa mesti Dia.”

”Sudahlah, Ko. Relakanlah kepergiannya. Doakan Dia tenang di sisi-Nya.”

Semenjak berita itu, hidupku hancur dan berantakan. Sesaat terlintas pikiran untuk mengakhiri hidupku agar Aku bisa menemani dirinya. Namun, banyak teman-teman yang terus menghiburku. Perlahan-lahan aku mengerti, Aku telah merelakan kepergian Tyas yang sangat menyedihkan. Saat itu saat Aku melihat Tyas tergeletak tak jauh dari Truk itu adalah saat terakhir Aku melihat dirinya, dan saat terakhir Aku melihat jasad kekasihku tergeletak tak berdaya dan berlumuran darah. Walau begitu, Aku takkan pernah melupakan kisah cintaku dengan Tyas yang baru berjalan singkat, kisah cinta ini akan selalu terjalin walau kita telah berada di tempat berbeda. Aku akan menyimpan kenangan manis ini bersamamu selalu untuk selamanya.