Tampilkan postingan dengan label Praktikum. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Praktikum. Tampilkan semua postingan

Jumat, 25 Januari 2013

Laporan Praktikum Anatomi Eksperimental

Regenerasi Pada Planaria


Pada hewan-hewan tertentu bagian tubuh yang disayat/dibuang/hilang, dapat diperbaiki dengan sempurna melalui proses regenerasi. Dalam hal ini tampak bahwa kemampuan tumbuh dan diferensiasi tidak terbatas pada embrio saja, tetapi dapat sampai dewasa bahkan seumur hidup organisme tersebut. Pada regenerasi, umumnya polaritas dipertahankan. Contoh hewan yang memiliki kemampuan regenerasi yang tinggi adalah Planaria (Riyandi, 2012).
Planaria biasanya terdapat di daerah rawa, atau di aliran sungai yang mengalir. Planaria dapat ditemukan pada aliran air yang tidak terlalu deras dan tidak terlalu banyak sinar. Hal ini sesuai dengan pernyataan Baharudin (2008) yaitu kecepatan arus mempengaruhi keberadaan planaria karena pada kolam yang tenang tidak ditemukan sama sekali planaria. Namun, pada perairan yang mengalir terdapat banyak planaria, walaupun yang paling banyak ditemukan planaria adalah di daerah aliran yang tidak terlalu deras. Lingkungan habitat yang paling disukai planaria ternyata di daerah perairan air tawar yang mengalir tidak terlalu deras (adanya kecepatan arus) dan jernih, disamping itu juga ekosistemnya lengkap baik biotik maupun abiotik. Lingkungan biotik seperti adanya tumbuhan rumput air, hewan-hewan kecil yang ada di air tersebut. Sedangkan lingkungan abiotik seperti adanya batuan, pasir dan ranting-ranting kayu, serta sampah organik bekas daun-daunan.
Cara memancing planaria keluar dari persembunyiannya adalah dengan menggunakan hati ayam segar sebagai umpan. Hati ayam segar dipasang pada lidi kemudian ditancapkan kedalam tanah yang terdapat aliran air yang tidak terlalu deras. Hati ayam sedikit dihancurkan agar lebih merangsang planaria untuk mendekati umpan. Hal ini disebabkan oleh adanya kemoreseptor pada planaria. Seperti menurut Collins dan Harker (1999) yang menyatakan bahwa Planaria menggunakan kemoreseptor untuk menemukan makanan. Mereka bergerak baik menuju atau jauh dari konsentrasi terlarut bahan kimia yang berhubungan dengan makanan. Tyler (2000) menambahkan bahwa kemoreseptor planaria terdapat pada auricle (seperti telinga) yang terdapat pada bagian kepala.
Menurut Tyler (2000), terdapat metode lain yang dapat digunakan untuk mengkoleksi planaria, tetapi biasanya jarang dilakukan, yaitu dengan membawa massa vegetasi yang terendam dari sungai atau danau. Vegetasi harus dijaga dan ditutupi dengan air hingga membusuk. Jika muncul planaria, akan berkumpul di permukaan air dan di sepanjang sisi wadah dan kemudian planaria-planaria tersebut dapat diambil menggunakan kuas lembut.
Dalam laboratorium, planaria harus diutamakan dalam kondisi yang bersih. Planaria harus ditempatkan di air pada baskom gelas atau panci dan dijaga dalam kondisi yang gelap. Air tidak boleh berasal dari air kran karena terdapat kandungan klorin yang menyebabkan racun bagi planaria yang sangat sensitif. Air dari sumber mata air atau dari sumur atau air dari tempat koleksi asal dapat digunakan dan air diganti selama 2 atau 3 kali dalam seminggu. Setiap kali air diganti, wadah harus diganti atau dibersihkan untuk menghilangkan penumpukan material yang berasal dari mucus-mukus yang disekresikan planaria (Tyler, 2000).
Tyler (2000) juga menyebutkan bahwa jika planaria akan digunakan untuk eksperimen dengan waktu yang lama harus diberi makan satu atau dua kali seminggu. Sekali seminggu sudah cukup untuk memelihara kultur planaria tersebut. Dua kali seminggu hanya dibutuhkan jika ingin meningkatkan kualitas stok. Planaria dapat diberi makan hati ayam segar atau hati sapi segar atau dapat juga menggunakan kuning telur. Pakan pada wadah harus diambil setelah 2-3 jam untuk mencegah terkontaminasinya air dari bakteri. Selain itu untuk melakukan percobaan regenerasi, planaria harus dipuasakan selama seminggu. Hal ini akan mengosongkan usus dari makanan  dan akan mencegah kontaminasi bakteri selama periode pemulihan. Planaria tidak boleh diberi pakan kembali hingga regenerasi selesai.
Pemotongan planaria dapat dilakukan menggunakan 5 modifikasi pemotongan yaitu : 1) secara transversal pada bagian median atau setengah bagian tubuh, 2) dipotong secara transversal di bawah farink dan bagian ekor sedikit dipotong secara longitudinal, 3) dipotong secara transversal di atas farink dan bagian atas sedikit dipotong secara longitudinal, 4) dipotong secara transversal di bawah  farink dan bagian atas sedikit dipotong secara longitudinal, dan 5) dipotong sedikit pada bagian kepala secara longitudinal. Kelima modifikasi pemotongan tersebut berhasil dilakukan dan setelah 2 minggu terdapat blastema yang menandakan bahwa planaria telah melakukan proses regenerasi.

      
    




Mekanisme regenererasi pada planaria dimulai dari penutupan dan penyembuhan luka. Luka akan tertutup oleh kontraksi otot pada dinding tubuh. Proses ini akan memakan waktu 10 menit. Epitel akan mengobati luka dengan aktif menyebar pada luka dan proses ini akan berlangsung selama 20 menit. Ketika terjadi penyembuhan luka, akan terbentuk blastema. Blastema merupakan kumpulan dari sel-sel yang belum terdiferensiasi yang akan berdiferensiasi saat ada bagian tubuh yang hilang atau rusak. Sel-sel dari blastema disebut neoblast. Neoblast merupakan sel-sel embrionik seperti stem sel yang ditemukan di seluruh tubuh dan menunggu tugas untuk melakukan regenerasi. Ketika pemotongan terjadi, neoblast akan segera menuju daerah luka akibat pemotongan tersebut untuk membentuk blastema. Hal ini membuktikan bahwa neoblast dapat bermigrasi dari bagian yang lebih jauh. Pada dasarnya sel-sel dari blastema dapat melakukan mitosis dengan cepat. Pada hewan yang berada pada suhu 22-24oC, blastema akan terbentuk selama 1-2 hari dan akan terlihat selama 3-4 hari berupa area yang tidak berpigmen. Waktu kejadian tersebut tergantung dari suhu, ketika suhu rendah maka akan semakin lama terlihat. Pada 22-24oC, proses diferensiasi terjadi dengan cepat dan pada 4-6 hari dapat terlihat struktur yang telah mengalami diferensiasi pada area regenerasi. Setelah 2-3 minggu, regenerasi telah selesai dilakukan dengan dibuktikan adanya pembentukan kembali proporsi tubuh yang normal (Tyler, 2000).
Tipe regenerasi dimana bagian yang hilang dibentuk kembali dari sel-sel yang belum terdiferensiasi disebut epimorfosis. Proses ini berkebalikan dengan proses regenerasi yang lain yaitu morfalaksis dimana sel-sel yang telah terdiferensiasi kembali dibentuk menjadi bentuk yang baru. Tipe regenerasi planaria adalah epimorfosis, tetapi ada sedikit kontribusi proses morfasaksis karena beberapa penelitian mengindikasikan bahwa proses morfalaksis mungkin berperan penting dalam proses regenerasi planaria (Chandebois, 1984).
Planaria bersifat fototaksis negatif atau menjauhi cahaya ketika cahaya mengenai kepala. Hal ini menurut Collins dan Harker (1999) disebabkan karena planaria memiliki fotoreseptor yang terdapat pada lengkung mata yang dapat mendeteksi arah dan intensitas cahaya. Selain itu perilaku lain dari planaria adalah ketika tubuh planaria dikenai arus, maka planaria akan mendekati arus tersebut, hal ini disebabkan karena planaria memiliki sifat rheotaksis positif. Menurut Pearl (1903), planaria akan bersifat rheotaksis positif jika arus air mengenai bagian kepala atau bagian anterior tubuh.

DAFTAR REFERENSI
Baharudin. 2008. Pengaruh perbedaan jenis makanan dan kecepatan arus terhadap keberadaan planaria. Pusdiklat Tenaga Teknis Keagamaan Badan Litbang dan Diklat Departemen Agama, Jakarta.
Chandebois, R. 1984. Intercalary regeneration and level interactions in the freshwater planarian, Dugesia lugubris. II. Evidence for independent antero-posterior and medio-lateral self-regulating systems. Roux Arch. Dev. Biol. 194: 390–396.
Collins, L. T., dan B. W. Harker. 1999. Planarian behavior: A student-designed laboratory exercise. Pages 375-379, in Tested studies for laboratory teaching, Volume 20 (S. J. Karcher, Editor). Proceedings of the 20th Workshop/Conference of the Association for Biology Laboratory Education (ABLE), 399 pages.
Pearl, R. 1903. The Movements and Reactions of Freshwater Planarians: a Study in Animal Behaviour. J. & A. Churchill, London.
Riyandi, H. 2012. Metamorfosa Katak dan Regenerasi Planaria. http://neoviologian.blogspot.com/2012/09/metamorfosa-katak-dan-regenerasi.html. Diakses pada tanggal 12 Januari 2013.
Tyler, M. S. 2000. Developmental Biology, A Guide for Experimental Study. Sinauer Associates, Inc. Publisher, Sunderland.

Minggu, 01 Mei 2011

Laporan Praktikum Biologi Reproduksi : Fertilisasi Antar Gamet Beda Species

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Fertilisasi adalah penggabungan antara 2 gamet yaitu gamet jantan dan gamet betina yang diakhiri dengan bergabungnya nukleus dari 2 gamet tersebut., sehingga terbentuk zigot. Fertilisasi menyebabkan penggabungan seks kromosom sel telur dan spermatozoa untuk penentuan jenis kelamin individu baru. Meskipun berjuta-juta spermatozoa dikeluarkan pada saat pemijahan dan menempel pada sel telur tetapi hanya satu yang dapat melewati mikrofil, satu-satunya lubang masuk spermatozoa pada sel telur. Kepala spermatozoa menerobos mikrofil dan bersatu dengan inti sel telur, sedangkan ekornya tertinggal pada saluran mikrofil tersebut, dan berfungsi sebagai sumbat untuk mencegah spermatozoa yang lain masuk. Spermatozoa juga hanya bisa mengenali sel telur dari jenisnya sendiri. Namun, berbagai teknologi saat ini sering dilakukan untuk melakukan persilangan fertilisasi gamet. Jadi bukan hal yang tidak mungkin bahwa fertilisasi terjadi pada gamet dengan spesies yang berbeda.

Fertilisasi dapat terjadi dengan dua cara, yaitu fertilisasi eksternal dan fertilisasi internal. Fertilisasi eksternal (khas pada hewan-hewan akuatik) terjadi karena gamet-gametnya dikeluarkan dari dalam tubuhnya sebelum fertilisasi. Sedangkan fertilisasi internal (khas untuk adaptasi dengan kehidupan di darat) terjadi karena sperma dimasukkan ke dalam daerah reproduksi betina yang kemudian disusul dengan fertilisasi. Setelah pembuahan, telur itu membentuk membran fertilisasi untuk merintangi pemasukan sperma lebih lanjut. Kadang-kadang sperma itu diperlukan hanya untuk mengaktivasi telur.

B. Tujuan

Tujuan dari praktikum ini adalah dapat membuktikan fungsi khusus spermatozoa dalam mengaktifkan program perkembangan telur serta membuktikan kemungkinan pembuahan antara dua gamet yang berbeda jenis.

II. MATERI DAN METODE

A. Materi

Alat-alat yang digunakan pada praktikum ini adalah peralatan untuk pengambilan gamet, mangkuk pembuahan, baskom kultur lengkap dengan aerator mengalir, mikroskop/loup, pipet, dan obyek glass. Bahan-bahan yang digunaan adalah induk-induk penghasil gamet dari jenis spesies berbeda, dua jenis gamet jantan dan betina dari jenis berbeda (missal nilem, Osteochillus hasselti, dan tawes, Puntius javanicus), dan medium.

B. Metode

1. Siapkan peralatan kultur

2. Striping induk jantan untuk memperoleh gamet jantan

3. Segera encerkan milt dengan medium Ringer yang disediakan. Buat pengenceran 1 : 100 yaitu satu bagian milt dan 99 bagian medium

4. Gunakan milt encer tersebut untuk fertilisasi telur

5. Telur segar distriping dari induk

6. Untuk pembuahan buatan pertemukan telur segar dan milt encer, kemudian pindahkan ke bak/baskom kultur dan diamati keberhasilan pembuahan buatan

7. Lakukan hal yang sama untuk melihat efektifitas pembuahan dari spesies yang berbeda, yaitu pertemukan telur dari spesies A dengan milt encer dari spesies B.

8. Inkubasikan dan amati selama beberapa hari untuk meyakinkan keberhasilan fertilisasi yang dikerjakan.

III. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil

Tabel Hasil Pengamatan Fertilisasi

Milt

Telur

Hasil

Tawes

Tawes

Tidak menetas menjadi larva

Nilem

Nilem

Berkembang, menetas menjadi larva

Tawes

Nilem

Tidak menetas menjadi larva

Nilem

Tawes

Tidak menetas menjadi larva

B. Pembahasan

Masuknya spermatozoa ke dalam ovum disebut pembuahan atau fertilisasi. Setelah spermatozoa masuk, ovum menjadi berhasil (fruitful), tumbuh menjadi individu baru, disebut juga dengan istilah fertilisasi. Ovum yang sudah dibuahi disebut zigot. Perkataan itu berarti berpasangan atau berhubungan. Berasal dari peristiwa berpasangannya kedua pihak kromosom gamet, yakni pihak jantan atau patroklin dan pihak betina atau matroklin. Masing-masing gamet mengandung 1n kromosom, disebut haploid. Setelah terjadi pembuahan zigot terdiri dari sel yang 2n, disebut diploid. Zigot pun mengalami pertumbuhan embryologis (Yatim, 1984).

Telur yang telah berkembang menjadi matang, mampu mengadakan penyatuan dengan sperma, suatu proses yang disebut fertilisasi. Telur dan sperma dari spesies yang sama didekatkan satu sama lain, hal ini untuk mempertemukan kedua gamet tersebut. Gerakan berenang sperma membawanya ke telur. Tiap gamet mengalami serangkaian perubahan selular yang rumit yang menyebabkan dapat masuknya sperma dan menjadi aktifnya telur. Sel telur, tidak seperti halnya dengan sel lain, mempunyai membran vitelin atau pembungkus, yang melapisi membran plasma. Setelah sperma mendekati permukaan telur terjadilah reaksi akromosom. Beberapa spesies membentuk satu atau lebih filamen akromosom yang menembus membran vitelin. Bersamaan dengan hal tersebut, enzim-enzim yang dikeluarkan oleh akromosom melarutkan membran sehingga terjadi jalan masuk. Jika zat dari akromosom itu mencapai membran plasma, maka permukaan telur menonjol keluar dan membentuk kerucut fertilisasi. Membran plasma dari telur dan sperma kemudian mendekat dan daerah sentuhan menjadi rusak sehingga terbentuk jalan bagi nukleus sperma untuk masuk ke dalam sitoplasma telur. Ekor sperma tersebut dapat tertinggal di luar. Pada waktu peristiwa ini berlangsung, permukaan telur mengalami suatu reaksi kortikal yang menyebar dari tempat sentuhan dengan sperma. Mukopolisakarida yang telah tertimbun dalam granula kortikal dilepaskan ke permukaan. Karena zat ini menyerap air dan membengkak maka membran vitelin terangkat dari permukaan telur dan membentuk membran fertilisasi. Hal ini mencegah sperma lain untuk menembus telur (Ville et al., 1988).

Pembuahan atau fertilisasi adalah proses bersatunya sel telur dengan spermatozoa, sehingga penyatuan kedua macam sel kelamin itu menghasilkan makhluk berupa sel baru yang disebut zigot. Pembuahan ini merupakan petunjuk yang mengawali kebuntingan. Berhasil atau gagalnya pembuahan sangat bermakna dalam proses perkembangbiakan. Dalam arti sempit perkembangan embrio vertebrata berawal dari zigot. Ahli embriologi memandang bahwa pembuahan adalah proses mengaktifkan sel telur oleh spermatozoa, walaupun spermatozoa bukan faktor mutlak bagi sel telur untuk membelah diri (cleavage) (Sukra, 2000).

Dalam sitoplasma telur, zat nukleus sperma yang padat membengkak dan membentuk sperma atau pronukleus jantan, yang bergerak menuju telur atau pronukleus betina. Kedua pronukleus tersebut bersatu membentuk nukleus zigot atau masing-masing menyumbangkan kromosomnya pada gelendong pembelahan pertama (Ville et al., 1988).

Akibat masuknya spermatozoa ke dalam sitoplasma sel telur, cairan sitoplasma sel telur berkurang, karena ada cairan yang masuk ke dalam ruang perivitelin sel telur. Pada waktu yang bersamaan kepala spermatozoa menggembung, kemudian menjadi tidak berbentuk, konsistensinya seperti gel, dan ekornya lepas. Perubahan di dalam inti sel, antara lain ada beberapa anak-anak inti yang kemudian bergabung satu dengan yang lain di bagian tepinya. Bentuk inti sekarang menyerupai bentuk inti sel somatik, dan dikenal dengan sebutan pronukleus jantan. Pada beberapa jenis hewan, benda kutub kedua baru dilepaskan setelah ada spermatozoa masuk, setelah itu baru terjadi pembentukan pronukleus. Kedua jenis pronukleus berkembang pada waktu yang tidak begitu berbeda, dan dalam beberapa jam volumnya bertambah. Bagian akhir proses pembuahan adalah menghilangnya anak-anak inti berikut selaput-selaputnya, kromosom maternal mulai tampak kemudian bersatu menjadi satu kelompok. Lama pembuahan dihitung berdasarkan waktu yang diperlukan mulai dari masuknya spermatozoa ke dalam sitoplasma sel telur sampai dengan dimulainya pembelahan zigot (Sukra, 2000).

Kebanyakan Avertebrata, Pisces, dan Amphibia mani dikeluarkan jantan dekat-dekat pada telur yang baru saja dikeluarkan betinanya dan serentak. Waktu serentak itu disebut spawning. Karena itu perjalanan di sini pendek sekali. Spermatozoa bergerak aktif dalam medium air untuk mencapai telur, lalu membuahinya (Yatim, 1984).

Bereaksinya kedua macam gamet menyebabkan terjadinya aglutinasi di dekat ovum, lalu memudahkan beberapa ekor bertumbukan dengan ovum. Kemudian seekor akan dapat menerobos masuk. Ketika akrosom menumbuk zona pelusida, terjadi reaki akrosom, dimana akrosin dilepaskan, lalu membran depan akrosom itu hancur, dan membran akrosom di belakangnya akan bersatu dengan oolemma, sehingga inti spermatozoa terbuka jalan untuk masuk. Kemudian inti ovum berubah menjadi pronukleus betina, selaput intinya hilang, lalu mengalami meiosis II. Polosit yang berada di bawah zona pelusida juga mengalami meiosis, akhirnya terbentuk 3 polosit. Pronuklei saling mendekat di poros telur, sedikit lebih dekat ke kutub animal (KA), lalu terjadilah proses karyogami, yakni bergabungnya pronuklei. Mula-mula nuklei masing-masing hilang, selaput inti hilang, dan besar pronuklei sendiri menciut. Masing-masing kromosom mengganda menjadi dua kromatid, yang sentromernya masih satu. Mitosis pun berlangsunglah (Yatim, 1984).

Secara alamiah pembuahan dapat diartikan sebagai proses pengaktifan sel telur oleh spermatozoa. Akan tetapi penelitian lebih lanjut menunjukkan bahwa spermatozoa bukan satu-satunya faktor yang menyebabkan sel telur berkembang menjadi zigot. Intervensi manusia melalui penelitian dan percobaan rekayasa dalam soal ini menunjukkan bahwa makhluk seperti kelinci dan kalkun telah dapat dihasilkan dari sel telur yang tidak dibuahi oleh spermatozoa. Para ahli ilmu keturunan atau genetika beranggapan bahwa terjadinya pembuahan disebabkan ada bahan kebakaan yaitu DNA dalam gen yang masuk ke dalam sel telur. Itulah sebabnya mengapa orang melakukan percobaan pembuahan dengan menyuntikan DNA ke dalam sel telur, seperti percobaan mikroinjeksi DNA atau transfer gen ke dalam pronukleus jantan dari pronuklea oosit. Berhasil tidaknya pembuahan mempunyai arti penting dalam proses perkembangbiakan (Sukra, 2000).

Perlu suasana lingkungan optimum untuk berlangsungnya pembelahan sel. Banyak faktor lingkungan yang mempengaruhi pembelahan. Yang penting di antaranya ialah suhu dan pH medium. Suhu rendah melambatkan proses, suhu tinggi meningkatkannya. Suhu yang terlalu rendah atau terlalu tinggi membuat tak giat membelah atau bahkan bisa mematikan sel. Pada gonad, jika suhu lingkungan terlalu tinggi maka proses pembelahan sel induk benih akan terhalang, dan dapat menimbulkan infertilitas (Yatim, 1984).

Untuk keberhasilan suatu fertilisasi, setiap induk perlu melakukan adaptasi. Adaptasi yang paling penting yang meningkatkan kemungkinan fertilisasi adalah penyerentakan populasi dan pelepasan gamet. Pada banyak hewan air, terjadi fertilisasi eksternal, yang mungkin dilakukan jika individu dari spesies tersebut berkumpul pada masa reproduksi dan sperma dapat dibawa oleh arus air ke telur (Ville et al., 1988).

Berdasarkan hasil praktikum yang dilakukan hanya fertilisasi dari milt dan telur ikan Nilem (Osteochillus hasselti) yang dapat berkembang menjadi larva. Sementara fertilisasi beda spesies tidak dapat menghasilkan larva. Hal ini dapat disebabkan karena fertilisasi beda spesies memiliki kemungkinan yang kecil untuk berhasil berkembang menjadi larva.

IV. KESIMPULAN

Berdasarkan hasil dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa :

1. Spermatozoa mampu mengaktifkan perkembangan telur dengan terbentuknya zigot.

2. Fertilisasi beda spesies memiliki kemungkinan kecil untuk berhasil diterapkan karena spermatozoa hanya mengenali telur dari spesies yang sama.


Minggu, 10 April 2011

Laporan Praktikum Biologi Reproduksi : Reproduksi Aseksual

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Jika ada suatu sifat organisme yang dapat disebut hakikat dari kehidupan, maka hal itu adalah kemampuannya untuk melakukan reproduksi. Reproduksi adalah pembentukan individu baru dari individu yang telah ada dan merupakan ciri khas dari semua organisme hidup. Kelestarian suatu spesies secara keseluruhan mengharuskan tiap individu memperbanyak diri, tiap generasi menghasilkan individu baru untuk menggantikan yang mati karena pemangsa, parasit, atau umur tua. Proses reproduksi tidak diperlukan untuk kelangsungan hidup tiap organisme tetapi tanpa reproduksi spesies akan punah. Jadi kelangsungan hidup individu sebagian ditujukan untuk memenuhi kemampuan reproduksi yang mutlak bagi kelestarian spesies.

Reproduksi dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu reproduksi aseksual dan reproduksi seksual. Pada reproduksi aseksual, suatu induk tunggal membagi diri, bertunas, atau memecah diri untuk menghasilkan dua keturunan atau lebih yang mempunyai sifat menurun yang identik dengan induknya. Sedangkan reproduksi seksual melibatkan dua induk, yang masing-masing menyumbangkan satu sel reproduktif khusus, suatu gamet, yang kemudian bergabung untuk membentuk telur terbuahi.

Pada masing-masing induk menyumbangkan sifat-sifat tertentu. Induk yang memiliki sifat yang dominan akan lebih mempengaruhi sifat anak yang dihasilkan, akan tetapi induk yang memiliki sifat resesif juga akan mempengaruhi walaupun persentasinya sangat kecil. Biasanya sifat resesif tidak tampak secara fenotipe, melainkan secara genotipe memiliki sifat yang resesif tadi.

B. Tujuan

Tujuan dari praktikum ini adalah mahasiswa dapat mengerjakan atau mempraktikkan sediaan untuk mendeskripsikan proses reproduksi aseksual.

II. MATERI DAN METODE

A. Materi

Alat-alat yang digunakan dalam praktikum reproduksi aseksual adalah gelas, pengaduk, pipet, obyek glass, cover glass dan mikroskop. Bahan-bahan yang digunakan dalam praktikum reproduksi aseksual adalah glukosa, yeast, dan air hangat.

B. Metode

1. Seduh setengah sendok teh glukosa dengan air hangat setengah penuh gelas dan aduk hingga rata.

2. Masukkan sedikit yeast roti ke dalam campuran tadi dan aduk beberapa detik.

3. Tutup sediaan yeast dalam gelas tersebut untuk member kesempatan yeast aktif dan dibiarkan selama beberapa menit.

4. Setelah Nampak ada gelembung dalam gelas, ambil dengan pipet tetes sediaan, teteskan gelas obyek, kemudian amati yeast di bawah mikroskop.

5. Amati populasi yeast yang sedang membelah aseksual beberapa saat.

6. Gambar hasil pengamatan

7. Gambar dan catat waktu reproduksi aseksual (pembelahan)

B. Pembahasan

Ciri yang paling nyata dari kehidupan adalah kemampuan organism untuk mereproduksi jenisnya. Sejenis menghasilkan sejenis, organisme menurunkan organism yang sama hanya terdapat pada organisme yang bereproduksi secara aseksual. Dalam reproduksi aseksual, suatu individu tunggal adalah satu-satunya induk dan menurunkan salinan dari seluruh gen-nya kepada keturunannya (Campbell et al., 2004).

Yeast dalam istilah biologi biasa disebut dengan khamir yang merupakan fungi uniseluler yang menempati habitat cair dan lembap, termasuk getah pohon dan jaringan hewan. Yeast bereproduksi secara aseksual yaitu dengan cara pembelahan sel sederhana atau dengan cara pelepasan sel tunas dari sel induk (Campbell et al., 2004).

Yeast merupakan sel-sel uninukleat yang membelah dengan membentuk tunas (budding), nukleus membelah sebagaimana sel membelah. Beberapa yeast bersifat dimorfik sehingga sebenarnya secara mendasar tidak banyak bedanya antara hifa dan yeast, hanya berbeda bentuk pertumbuhannya (Setiawan, 2010).

Yeast roti merupakan produk yang bermanfaat bagi manusia sebagai starter atau kultur non-aktif dari Sacharomyces sp. Sacharomyces sp. berasal dari Filum Ascomycota. Ascomycota hidup sebagai saprotrof, simbiotik antagonistik, dan simbiotik mutualistik. Struktur somatik cendawan Ascomycota ada yang bersel satu misalnya Saccharomyces sp. yang disebut khamir, dan ada yang bersel banyak dengan hifa bersekat. Fungi dari kelompok Ascomycota melakukan reproduksi secara aseksual degan cara membentuk konidium. Konidium ialah spora tunggal yang dihasilkan dalam kantung (sporangium). Selain itu, beberapa Ascomycota berkembang biak dengan tunas seperti Saccharomyces sp. Tunas terbentuk dari percabangan sel. Setelah semua bagian sel terbentuk, tunas melepaskan diri dari induknya (Bambang, 2010).

Saccharomyces (khamir) merupakan cendawan bersel satu yang tidak memiliki hifa dan tubuh buah makroskopis. Saccharomyces dimanfaatkan untuk membuat tapai, bir, dan roti. Dalam proses pembuatan bir, khamir akan mengubah karbohidrat menjadi glukosa. Kemudian mengubah glukosa tersebut menjadi alkohol. Apabila ditulis dengan rumus kimia, reaksi yang terjadi adalah sebagai berikut:

C6H12O6 --> 2C2H5OH + 2CO2

Saccharomyces juga dimanfaatkan untuk mengembangkan adonan roti, misalnya kue apem atau roti tawar. Adonan yang sudah jadi tidak langsung diolah, tetapi dibiarkan beberapa saat. Hal ini berfungsi untuk memberikan kesempatan pada khamir untuk melakukan proses fermentasi yang menghasilkan gas CO2. Gas CO2 yang terperangkap dalam adonan membuat teksturnya menjadi berongga dan mengembang. Khamir juga digunakan dalam industri alkohol. Proses akhir untuk mendapatkan alkohol ialah dengan cara penyulingan (Prayitno, 2008).

Dalam praktikum ini menggunakan yeast roti karena selain murah, bahan ini juga mudah didapat di pasaran. Yeast roti yang di dalamnya terdapat Saccharomyces sp. Yeast roti akan aktif setelah diberi stimulus suhu seperti diberi air hangat. Agar yeast ini lebih terlihat aktif maka sediaan ditutup karena Saccharomyces sp. bersifat anaerob. Setelah terdapat gelembung tanda yeast telah aktif membelah kemudian segera dilakukan pengamatan di bawah mikroskop. Pada praktikum ini yeast aktif membelah setelah 1 menit 45 detik.

IV. KESIMPULAN

Berdasarkan hasil dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa :

1. Yeast roti merupakan kultur non aktif dari yeast Saccharomyces sp. dari golongan Ascomycota.

2. Saccharomyces sp. bereproduksi secara aseksual yaitu dengan cara pembelahan.

V. DAFTAR REFERENSI

Bambang, S. 2010. Fungi dan Klasifikasinya. http://blog.unila.ac.id/bambangs. Diakses tanggal 8 Desember 2010.

Campbell, N. A., J. B. Reece, dan L. G. Mitchell. 2004. Biologi Edisi Kelima Jilid 3. Erlangga, Jakarta.

Prayitno, D. 2008. Yeast. http://dprayetno.wordpress.com/. Diakses tanggal 15 Desember 2010.

Setiawan, W. A. 2010. Fungi. http://blog.unila.ac.id/wasetiawan. Diakses tanggal 8 Desember 2010.

Kamis, 10 Juni 2010

INOKULASI VIRUS PADA TELUR AYAM BEREMBRIO

I. PENDAHULUAN

Newcastle Disease (ND) juga di kenal dengan sampar ayam atau Tetelo yaitu penyakit yang disebabkan oleh Newcastle Disease Virus dari golongan Paramyxovirus. Virus ini biasanya berbentuk bola, meski tidak selalu (pleomorf) dengan diameter 100 – 300 nm. Genome virus ND ini adalah suatu rantai tunggal RNA. Virus ini menyerang alat pernapasan, susunan jaringan syaraf, serta alat-alat reproduksi telur dan menyebar dengan cepat serta menular pada banyak spesies unggas yang bersifat akut, epidemik (mewabah) dan sangat patogen. Virus ND dibagi dua tipe yakni tipe Amerika dan tipe Asia. Pembagian ini berdasarkan keganasannya dimana tipe Asia lebih ganas dan biasanya terjadi pada musim hujan atau musin peralihan, dimana saat tersebut stamina ayam menurun sehingga penyakit mudah masuk.

Penyakit ini pertama ditemukan oleh DOYLE pada tahun 1926 di Newcastle (Inggris), dan mengidentifikasinya sebagai paramyxovirus-1 (PMV-1). Saat ini dikenal empat strain PMV-1 yaitu, strain Viscerotropic velogenik bersifat akut dan menginfeksi saluran pencernaan, dapat menimbulkan tingkat kematian yang tinggi 90%, Neurotropic velogenic yang dapat menyebabkan paralisis kaki, strain mesogenik dapat menyebabkan akut pernapasan dan menimbulkan kematian lebih dari 50%, dan strain lentogenik yang kurang virulen. Penularannya cepat dan kematian yang ditimbulkan sangat tinggi. Sampai sekarang ini belum ditemukan obat untuk menyembuhkan penyakit ini, tetapi bagaimanapun dapat digunakan vaksin untuk mencegah penyakit ini. Pencegahan dapat dilakukan dengan cara memahami lebih lanjut mengenai penyakit ini sehingga diperlukan pengujian misalnya dengan mengetahui ciri-ciri ayam yang terkena virus ND dengan menggunakan embrio ayam atau uji in ovo.

Praktikum ini bertujuan untuk memberikan pemahaman tentang macam-macam inokulasi virus, mengetahui bagaimana cara menginokulasikan virus pada telur ayam berembrio, dan mengetahui ciri-ciri embrio ayam yang terinfeksi virus New Castle Disease (ND).

II. MATERI DAN METODE

A. Materi

Alat dan bahan yang digunakan pada praktikum ini adalah telur ayam berembrio umur 10-12 hari, kapas, alkohol 70%, betadine, spuit 1 cc, bor telur, suspensi virus New Castle Disease (ND) dan alat peneropong.

B. Metode

Metode yang digunakan dalam praktikum ini adalah inokulasi pada ruang chorioalantois.

Cara Kerja :

1. Digunakan embrio ayam dengan umur 10-12 hari.

2. Dilakukan peneropongan pada telur yang digunakan.

3. Ditentukan batas kantung udara dan letak kepala embrio, lalu diberi tanda.

4. Dioleskan alkohol 70% lalu diinokulasikan suspensi virus ke dalam ruang alantois (melewati batas kantung udara) dengan cara jarum dimasukkan ¾ inci dengan sudut 45oC dan diinjeksikan 0,1-0,2 cc virus yang akan diinokulasikan.

5. Lubang kembali ditutup dengan lilin.

6. Diinkubasi dengan suhu 38oC-39oC selama 2-4 hari.

7. Diamati pada hari ke-4 dan dibandingkan dengan telur yang tidak diinokulasikan virus.

III. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil

Tabel Hasil Inokulasi Virus Pada Telur Ayam Berembrio

Kel.

Perlakuan

Hasil

Kematian embrio

Lesi pada CAM

Lesi pada embrio

Abnormal pada otot

Abnormal pada hati

Warna hijau pada kaki

1

I

Hidup

-

-

-

-

+


II

Mati

-

-

-

-

-

2

I

Mati

+

+

-

-

-


II







3

I

Mati

-

-

-

-

-


II







4

I

Mati

+

+

-

-

-


II

Mati

+

+

+

+

+

5

I

Hidup

+

+

+

+

+


II

Hidup

+

+

+

+

+



B. Pembahasan

Berdasarkan hasil praktikum diperoleh bahwa embrio yang diinokulasikan virus ND terlihat mengalami kematian dengan ciri-ciri lesi pada CAM, lesi pada embrio, abnormal pada otot dan kaki berwarna hijau. Menurut pernyataan Kaleta dan Neumann (1975), embrio yang diinokulasikan virus ND akan mengalami reduksi pada organ-organ tertentu misalnya hati, trakhea, serta pembuluh darah. Sedangkan menurut Smietanka et al. (2006), virus ND yang disuntikkan ke dalam embrio ayam akan bermigrasi ke dalam berbagai organ yang baru terbentuk dan merusak organ tersebut. Misalnya rusaknya organ hati, paru-paru, ginjal dan usus pada embrio ayam. Hal ini tergantung virulensi masing-masing strain virus ini.

Newcastle disease merupakan salah satu penyakit infeksi yang penting untuk dikaji pada ternak. Deteksi yang cepat dan identifikasi dari virus ini merupaka tahap yang paling efektif untuk mengontrol pertumbuhan penyakit ini (Smietanka et al., 2006). Newcastle Disease virus biasanya berbentuk bola, meski tidak selalu (pleomorf) dengan diameter 100 – 300 nm. Genome dari virus ND adalah suatu rantai tunggal RNA. ND virus mempunyai amplop yang mengandung dua protein yaitu protein hemagglutinin/neuraminidase dan protein peleburan. Kedua protein ini bersifat penting dalam menentukan keganasan dan infektivitas virus. Protein hemagglutinin/neuraminidase melaksanakan dua fungsi. Hemagglutinin mengikat selaput sel inang dan bagian neuraminidase dilibatkan di dalam pelepasan; pembebasan virus dari selaput sel inang. Protein peleburan digunakan untuk peleburan amplop virus kepada selaput sel inang, sehingga genom dari virus dapat masuk sel. Untuk melaksanakan fungsi ini, protein peleburan perlu dibelah oleh suatu protease sel inang (Ganwarin, 2008).

Selengkapnya download disini