Jumat, 10 Oktober 2014

Sembari Menunggu

Melihat kamu menapaki rute itu sangat membuatku haru. Haru melihatmu tersenyum bahagia bersama seseorang yang ku anggap baru. Meskipun ku tau itu bukan baru menurutmu, hanya seorang teman lama yang baru dipertemukan sekarang. Teman lama yang telah tertulis dalam Lauhul Mahfuz ciptaan-Nya. Teman lama yang tak engkau genggam kuat selama ini, karena jika tergenggam kuat, layaknya pasir, dia akan terlepas, sehingga kau tak bisa bersanding dengannya hingga kini. Kata orang itu yang namanya jodoh. Ah menyebut kata itu sepertinya sudah tidak asing lagi bagiku, bagi perempuan berumur ¼ abad mungkin kata jodoh adalah sebuah kata yang membuat sensitif. Bukankah setiap menghadap kepada-Nya selalu tak lupa disebutnya? Sebenarnya sensitif itu bukan karena takut, tetapi karena tak mengerti apa yang harus dilakukan. Sudah siapkah bertemu dengan teman lama itu? Apakah hanya duduk diam disini menunggu kehadiranmu? Bukankah dalam agama dianjurkan untuk berikhtiar? Entah teman lama seperti apa yang telah Tuhan persiapkan. Sembari menunggu, bukankah bisa melakukan ikhtiar, minimal mengindahkan jiwa, hingga teman itu hadir. Mengindahkan jiwa hingga tak sensitif jika kata jodoh kembali disebut.

Untuk yang sedang mengindahkan jiwa
Untuk yang sedang menanti teman lama
Siapkah kita menerima kehadirannya?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar