Kamis, 23 Oktober 2014

Mencintai dengan sederhana. Kau kah itu?

Pernah tidak kau mencintai seseorang yang belum pernah kau temui?
Untuk jaman teknologi canggih seperti ini mungkin memang sudah tidak asing lagi. Mencintai seseorang melalui sosial media, mungkin kau pernah. Dan saat ini sepertinya banyak orang yang melakukan itu.

Tapi pernah tidak kau mencintai seseorang yang belum pernah kau temui dan hanya 1 kali saja kau berkomunikasi dengannya?
Bagaimana bisa mencintai jika komunikasi pun terbilang jarang. Bukan jarang lagi, hanya 1 kali komunikasi itu bisa dikatakan tidak ada. Bahkan 1 kali komunikasi itu juga hanya membicarakan nama dan siapa dia. Walaupun sebelumnya juga sudah mencari tau lebih banyak tentang dia. Orang jaman sekarang menyebutnya “kepo”.

Lalu apa sih yang bisa diharapkan dengan mencintai seseorang seperti itu?
Entahlah, mungkin kau terlalu bodoh mencintai seseorang yang bahkan orang tersebut belum tentu juga mencintaimu. Malah bisa dibilang mengabaikanmu. Bukankah itu hanya cinta yang semu?
Tapi bukan masalah siapa orang yang kau cintai, melainkan bagaimana cara kau bisa mencintainya. Ya, sepertinya kau orang yang mudah jatuh cinta. Mencintainya hanya melalui tulisan-tulisan yang dia ketik. Mencintainya hanya melalui nasehat-nasehat yang dia tawarkan di ranah publik. Mencintainya hanya melalui karya-karyanya saja. Benarkah kau benar-benar mencintainya? Apa itu bukan disebut sebagai pengagum?
Sekali lagi mungkin kau terlalu bodoh dalam hal cinta. Kau hanya bisa berharap orang tersebut bisa melihatmu lebih jauh. Tapi bagaimana bisa? Kau mungkin tak pernah terlihat dalam pandangannya. Kau hanyalah angin yang sekedar lewat, dan hanya angin biasa, bukan angin semilir yang menyejukannya.

Masihkah kau berharap padanya?

Entah apa yang ada di dalam pikiranmu hingga setiap malam kau hanya mendoakannya. Kau selalu menyebut namanya dalam doa. Berharap Sang Maha Cinta bisa memperkecil sekat antara keberadaanmu dan keberadaannya. Ya, aku tahu memang hanya dengan cara itu kau bisa mencintainya dalam diam. Semua kau serahkan kepada Sang Pemersatu Insan. Kau juga tidak boleh takut kehilangan jika memang kau benar-benar tidak bisa dipertemukan dengan orang itu.

Semoga dengan mencintainya, kau tidak pernah lupa untuk mencintai-Nya
Karena cinta untuknya, tak boleh lebih besar dari cinta kepada-Nya

Satu hal yang ingin ku tanyakan lagi padamu?

Bahagiakah kau saat mencintainya?
Ya karena bahagia itu sederhana. Aku pun hanya akan mencintai dengan sederhana. Mencintai dalam diam-seperti Fatimah dan Ali. Mencintai lewat karya-karyanya. Melihatnya selalu tersenyum dengan baik pada gambaran piksel yang terbatas. Melihat aktivitasnya melalui kaca mata maya. Tanpa satu orang pun yang tahu. Takkan membuat sakit hati. Takkan ada dendam. Akan menjadi realita yang indah jika dipersatukan, dan juga akan menjadi kenangan yang indah jika tidak memang tidak tertuliskan dalam Lauh mahfuzh.




Jumat, 17 Oktober 2014

Metafora


Metafora 

Ingatkah, kata tersebut kau pelajari saat duduk di bangku SMP?

Metafora merupakan majas yang mengungkapkan ungkapan secara langsung berupa perbandingan analogis. Penggunaan kata atau kelompok kata bukan dalam arti yang sebenarnya, tetapi sebagai lukisan yang berdasarkan persamaan atau perbandingan. Tapi tulisan ini bukan tentang mempelajari majas metafora itu, melainkan fungsi kalimat atau kata metafora dalam kehidupan. 

Bukankah metafora itu sudah menjadi gaya hidup jaman sekarang? 

Lihatlah metafora digunakan sebagai penyatu rayuan-rayuan gombal yang sering digembar-gemborkan para lelaki pencari cinta. Ya benar memang demikian, karena wanita suka metafora. Tapi ada juga wanita yang menganggap para lelaki yang bermetafora itu terlalu picisan. Ah bukankah dalam lubuk hati kecilnya menganggap lelaki itu cukup sopan dalam bertutur kata. Yah walaupun modal googling juga bisa untuk bermetafora. 

Metafora 

Bermetafora bukan berarti terlalu picisan. Entah apapun yang kau pikirkan tentang ini. Tapi ini adalah gambaran hati. Lukisan indah yang manusia rancang dari angan-angan semu. Mungkin. Bukankah dengan bermetafora menjadikan hatimu nyaman. Benarkah nyaman? Atau malah sakit karena itu semua semu. 

Tunggulah, karena angan-angan semu saat bermetafora itu akan menjadi realita jika diikhtiarkan dengan doa kepada Sang Khalik. Kau harus percaya terhadap gambaran takdir yang akan kau jalani itu penuh lika-liku. Bukankah lebih nyaman jika kita menjalaninya dengan metafora. Lalu ada beberapa orang yang mengatakan, “Lantas menurutmu hidup itu permainan?” Bagaimana aku bisa menjawabnya? Bukan aku yang menganggap hidup itu permainan, aku hanya menjalani hidup dengan metafora, dengan perbandingan analogis, sehingga hidup yang terkadang susah tak menjadi mubah, terkadang menemui orang yang bengis menjadi terlihat manis. 

Aku hanya ingin menikmati hidup dengan bermetafora. Seperti ketika jatuh cinta. Aku juga tak menyalahkan perasaan yang entah datang darimana tiba-tiba menjadi luka yang tak kunjung sembuh ketika mengetahui dia tak mempunyai perasaan yang sama. Ya, itu karena memang terlalu terburu buru ingin mengetahui sebuah rasa. Lebih baik bermetafora bersama kata-kata indah. Dan kau pun bebas berekspresi tanpa menimbulkan luka satu sama lain. Kau bebas berinteraksi dengan jiwamu yang sedang berbahagia lewat tulisan. Kau pun tak perlu mengungkap semua itu kepadanya, seseorang yang kau cinta. Kau cukup menunggu kejutan dari-Nya. Karena kau tahu? Kejutan dari-Nya lebih indah daripada kejutan dari seseorang yang saat ini kau cinta.

Jumat, 10 Oktober 2014

Sembari Menunggu

Melihat kamu menapaki rute itu sangat membuatku haru. Haru melihatmu tersenyum bahagia bersama seseorang yang ku anggap baru. Meskipun ku tau itu bukan baru menurutmu, hanya seorang teman lama yang baru dipertemukan sekarang. Teman lama yang telah tertulis dalam Lauhul Mahfuz ciptaan-Nya. Teman lama yang tak engkau genggam kuat selama ini, karena jika tergenggam kuat, layaknya pasir, dia akan terlepas, sehingga kau tak bisa bersanding dengannya hingga kini. Kata orang itu yang namanya jodoh. Ah menyebut kata itu sepertinya sudah tidak asing lagi bagiku, bagi perempuan berumur ¼ abad mungkin kata jodoh adalah sebuah kata yang membuat sensitif. Bukankah setiap menghadap kepada-Nya selalu tak lupa disebutnya? Sebenarnya sensitif itu bukan karena takut, tetapi karena tak mengerti apa yang harus dilakukan. Sudah siapkah bertemu dengan teman lama itu? Apakah hanya duduk diam disini menunggu kehadiranmu? Bukankah dalam agama dianjurkan untuk berikhtiar? Entah teman lama seperti apa yang telah Tuhan persiapkan. Sembari menunggu, bukankah bisa melakukan ikhtiar, minimal mengindahkan jiwa, hingga teman itu hadir. Mengindahkan jiwa hingga tak sensitif jika kata jodoh kembali disebut.

Untuk yang sedang mengindahkan jiwa
Untuk yang sedang menanti teman lama
Siapkah kita menerima kehadirannya?