Selasa, 27 Maret 2012

Serangan Tomcat Akibat Ulah Manusia


Warga Surabaya dalam beberapa waktu terakhir diresahkan dengan adanya serangan serangga Tomcat atau kumbang Paederus yang tiba-tiba muncul dalam jumlah besar. Tidak sedikit warga yang tinggal di apartemen East Coast, Kenjeran, dan Wonorejo mengalami peradangan kulit (dermatitis) akibat serangga ini. Data terakhir menunjukkan setidaknya 13 kecamatan di Kota Surabaya yang terkena dampak serangan Tomcat.

Pakar Hama UGM, Dr. Suputa menyebutkan bahwa serangan Tomcat di Surabaya dikarenakan terganggunya habitat Tomcat di daerah hutan Mangrove yang berada di dekat Apartemen East Coast. Biasanya Tomcat hidup di daerah persawahan atau tempat-tempat lembab lainnya, salah satunya adalah hutan Mangrove. Kerusakan pada habitat Tomcat mendorong serangga ini mencari lingkungan yang baru sebagai tempat tinggal hingga merambah ke pemukiman penduduk.

Terkait merebaknya populasi dari predator wereng ini, Suputa menyampaikan bahwa terdapat sejumlah faktor penyebab kejadian ini. Selain minimnya keberadaan predator Tomcat, faktor musim juga berpengaruh terhadap peningkatan serangga ini. Pada musim penghujan, dengan kondisi kelembaban tinggi, populasi wereng yang merupakan pakan dari Tomcat meningkat. Ketersediaan pakan yang melimpah inilah memicu meledaknya populasi tomcat. 

Suputa menuturkan bahwa serangga tersebut sebenarnya tidak berniat menyerang manusia. Merambahnya Tomcat ke pemukiman pendudukan dikarenakan tertarik pada cahaya atau lampu di rumah penduduk. “Sebetulnya kumbang ini tidak bermaksud menyerang. Namun saat merasa terganggu akan mengeluarkan racun paederin yang menyebabkan kulit meradang dan melepuh,” papar staf pengajar pada Jurusan Ilmu Hama dan Penyakit Tumbuhan ini.

Disampaikan Suputa, serangga paederus bersimbiosis dengan bakteri endosimibion dari genus Pseudomonas yang ada di dalam darah paederus. Serangga yang bersifat infektif membawa bakteri ini adalah serangga berjenis kelamin betina. “Serangga betina yang infektif membawa bakteri tersebut haemolymphnya mengandung paderin yang bersifat racun,” ungkapnya.

Apabila dirumah Anda menemukan Tomcat, Suputa menyarankan untuk lebih berhati-hati dan tidak melakukan kontak langsung. Hewan ini akan berbahaya apabila tergencet dan darahnya bersinggungan dengan kulit manusia. Yang perlu dilakukan hanya menghalau dengan tiupan atau kertas. “ Kalau petani sebenarnya sudah familier dengan paederus dan tidak pernah ada masalah karena tidak memukulnya. Sserangga ini tidak merugikan, tetapi justru membantu petani dalam mengendalikan hama wereng,” urainya.

Tomcat memiliki ciri tubuh memanjang berukuran sekitar 1cm. Kepala berwarna hitam, dada dan perut berwarna oranye. Memiliki dua pasang sayap yang tidak menutupi seluruh abdomen.

Sementara untuk pengendalian paederus, bisa dilakukan dengan menggunakan jebakan lampu. Apabila sudah banyak yang tertangkap selanjutnya dilepas di kebun untuk penyeimbang alam. “Kalau sudah tertangkap jangan langsung dibunuh, tetapi sebaiknya dilepas di alam untuk penyeimbang lingkungan,” jelasnya.

Namun, jika populasinya besar bisa dilakukan penyemprotan seperti yang telah dilakukan di beberapa daerah. Penyemprotan dilakukan dengan insektisida botani berbahan tumbuhan. “ Kalau jumlahnya banyak ya disemprot saja dengan insektisida botani yang mudah terdegradasi,” tukasnya.

Tomcat memang bisa menyerang siapa saja. Lantas bagaimana jika sudah terkena racun serangga ini?

dr. Niken Indrastuti, Sp.KK, pakar penyakit kulit Fakultas Kedokteran (FK) UGM mengatakan tindakan pertama yang harus dilakukan jika terkena serangga ini adalah dengan mencuci bagian tubuh yang bersentuhan dengan serangga menggunakan air atau sabun. “ Kalau sudah meradang maka perlu dikompres dengan air dingin, jangan di kasih minyak atau balsem karena akan memperparah iritasi,” katanya.

Pengobatan juga bisa dilakukan dengan mengoleskan salep Hydrocortisone pada daerah yang terluka. Namun, ditegaskan Novi, tidak semua kasus dapat diobati dengan Hydrocotisone, tergantung dari besaran dan tingkat keparahan iritasi. “ Sebaiknya kalau kondisi memburuk langsung dibawa ke rumah sakit atau dokter,” saran Novi.

Novi menyebutkan bahwa racun paederin tidak mematikan. Yang membahayakan apabila terjadi infeksi sekunder. “ Sebenarnya racun ini tidak berbahaya, tidak mematikan. Bahayanya kalau ada kuman yang masuk pada kulit yang terluka akan menyebabkan infeksi sekunder” tegasnya.

Penyakit yang terjadi karena racun paederin ini merupakan penyakit yang ditularkan melalui kontak dengan kulit. Selain menyentuh secara langsung serangga paederus, penularan dapat terjadi melalui kontak dengan barang-barang yang digunakan penderita seperti handuk dan pakaian. Guna mememinimalisir penularan, Novi menghimbau masyarakat untuk menjaga kebersihan dengan tidak menggunakan barang-barang yang telah terkena racun padederin. “Jadi sebaiknya jangan memakai handuk yang telah digunakan untuk mengelap atau mengkompres luka penderita karena akan menularkan racun,” pungkasnya.

Sumber : UGM

Rabu, 21 Maret 2012

Halomonas titanicae, Bakteri Pemakan Bangkai Kapal Titanic

Dikutip dari VivaNews, Pada 15 April 1912, Kapal RMS Titanic tenggelam. Sebuah kecelakaan kapal paling tenar sepanjang masa. Kisah kapal yang bangkainya yang kini terbaring di dasar Laut Atlantik terus mempesona dan menginspirasi banyak orang. 

Termasuk romantisme Jack dan Rose dalam film Hollywood berjudul 'Titanic. 

Namun, siapa sangka eksistensi bangkai Titanic sedang terancam, gara-gara bakteri. 

Para peneliti di Dalhousie University, Halifax, Nova Scotia, Canada telah meneliti bakteri yang menggerogoti Titanic. Itu adalah bakteri pemakan karat. 

Menggunakan teknologi DNA, ilmuwan Dahousie, Henrietta Mann dan Bhavleen Kaur, serta peneliti dari University of Sevilla, Spanyol mampu mengidentifikasi spesies bakteri baru yang dikumpulkan dari rusticles -- formasi karat yang mirip stalaktit dari bangkai Kapal Titanic. 

Bakteri pemakan besi teroksidasi itu bahkan telah diberi nama, Halomonas titanicae.

Penemuan bakteri ini punya arti penting dalam upaya mengawetkan bangkai kapal ini. 

"Pada 1995, saya memprediksi Titanic bakal bertahan 30 tahun lagi," kata Henrietta Mann, seperti dimuat situs LiveScience.

"Tapi, ini jauh lebih buruk. Umurnya mungkin lebih pendek, 15 atau 20 tahun."

Bangkai Titanic saat ini ditutupi rusticle yang dibentuk setidaknya oleh 27 bakteri, termasuk Halomonas titanicae.

Rusticles memiliki pori-pori yang memungkinkan air melewatinya. Melalui proses yang agak rumit, ia akhirnya akan hancur menjadi bubuk. "Ini adalah proses alam, daur ulang besi kembali ke alam," kata Mann.

Pasca tenggelam, selama beberapa dekade Titanic menyimpan misteri. Tak ada yang tahu di mana tepatnya lokasi kapal mahsyur itu tenggelam. 

Bangkai Titanic akhirnya ditemukan oleh ekspedisi gabungan Perancis-Amerika Serikat pada tahun 1985. Bangkai Titanic dijumpai berada sedikitnya 3,8 kilometer di bawah permukaan laut di 530 kilometer tenggara Newfoundland, Canada.

Dalam 25 tahun sejak penemuannya, bangkai Titanic dengan cepat memburuk. 

Meski nantinya gagal menyelamatkan Titanic, penemuan bakteri ini punya arti yang sangat penting. Salah satunya, mempercepat pelapukan kapal tua dan rig minyak lawas.

Di sisi lain, penemuan bakteri ini juga akan membantu para ilmuwan mengembangkan cat atau lapisan pelindung untuk menjaga kapal dari bakteri pemakan karat itu. 

Temuan peneliti telah dipublikasikan 8 Desember 2010 dalam International Journal of Systematic and Evolutionary Microbiology.

Sabtu, 17 Maret 2012

Reaksi Hipersensitivitas

REAKSI HIPERSENSITIVITAS : merupakan suatu reaksi imun yang patologis, yang terjadi akibat respon imun yang berlebihan sehingga menimbulkan kerusakan jaringan tubuh.

Ada 4 Tipe Reaksi Hipersensitivitas :

1. Reaksi Hipersensitivitas Tipe I
Reaksi ini merupakan reaksi cepat atau disebut juga reaksi alergi karena timbul segera setelah tubuh terpapar oleh antigen (alergen) dan waktunya kurang lebih 10-15 menit. Pada reaksi ini, alergen yang masuk ke dalam tubuh akan menimbulkan respon imun dengan dibentuknya IgE.
Reaksi ini dapat terjadi melalui beberapa fase :
a. fase sensitasi
fase ini adalah fase dimana diperlukan waktu untuk pembentukan IgE sampai diikatnya IgE oleh reseptor spesifik (Fc E-R), pada permukaan sel mast dan basofil.
b. fase aktivasi
fase dimana terdapat paparan ulang dengan antigen/alergen yang spesifik. Sel mast akan melepas isinya yang berupa granul yang dapat menimbulkan infeksi.
c. fase efektor
fase ini akan menimbulkan respon yang kompleks (anafilaksis) sebagai efek dari mediator (contoh : histamine) yang dilepas oleh sel mast.

2. Reaksi Hipersensitivitas Tipe II
Reaksi ini melibatkan peran IgG dan IgM. Pembentukan antibodi ditujukan kepada antigen yang terdapat pada permukaan sel atau jaringan tertentu atau yang merupakan komponen membran sel. Antibodi dapat mengaktifkan sel yang memiliki reseptor Fc-γR, sel Natural killer (NK) yang berfungsi sebagai sel efektor melalui mekanisme ADCC. Ikatan Antigen-Antibodi (Ag-Ab) dapat pula mengaktifkan komplemen yang melalui reseptor C3b, memudahkan fagositosis atau menimbulkan lisis.

Bersambung....