Sabtu, 10 Januari 2015

Andai Saja

Andai saja ada seseorang yang benar-benar mencintaiku
Senang rasanya bisa menuliskan prosa2 sederhana yang ditujukan langsung untuknya
Bisa membuat beberapa tulisan dengan dia sebagai inspiratornya

Andai saja ada seseorang yang dapat memelukku meski dari jauh
Bahagia sekali jika setiap sepertiga malam, namanya tak lupa disebut
Serta merta hari-hariku pasti akan terwarnai lebih indah karna kehadirannya

Andai saja ada seseorang yang sedang berusaha menyulam rindu untuk bertemu denganku
Menyenangkan sekali menunggunya, walau  kepastian itu tergantung sang Pencipta

Andai saja ada seseorang yang selalu menyebut namaku dalam doa untuk menemaninya hingga penghujung usia
Ku pasrahkan kepada Tuhan, karena Dia yang akan menghadirkan kisah-kisah fantastis pertemuan kita

Pun andai saja tidak ada seseorang itu
Pasti ada 1 dari beberapa juta orang blog walking yang telah membaca tulisanku ini, Terimakasih J

Kamis, 23 Oktober 2014

Mencintai dengan sederhana. Kau kah itu?

Pernah tidak kau mencintai seseorang yang belum pernah kau temui?
Untuk jaman teknologi canggih seperti ini mungkin memang sudah tidak asing lagi. Mencintai seseorang melalui sosial media, mungkin kau pernah. Dan saat ini sepertinya banyak orang yang melakukan itu.

Tapi pernah tidak kau mencintai seseorang yang belum pernah kau temui dan hanya 1 kali saja kau berkomunikasi dengannya?
Bagaimana bisa mencintai jika komunikasi pun terbilang jarang. Bukan jarang lagi, hanya 1 kali komunikasi itu bisa dikatakan tidak ada. Bahkan 1 kali komunikasi itu juga hanya membicarakan nama dan siapa dia. Walaupun sebelumnya juga sudah mencari tau lebih banyak tentang dia. Orang jaman sekarang menyebutnya “kepo”.

Lalu apa sih yang bisa diharapkan dengan mencintai seseorang seperti itu?
Entahlah, mungkin kau terlalu bodoh mencintai seseorang yang bahkan orang tersebut belum tentu juga mencintaimu. Malah bisa dibilang mengabaikanmu. Bukankah itu hanya cinta yang semu?
Tapi bukan masalah siapa orang yang kau cintai, melainkan bagaimana cara kau bisa mencintainya. Ya, sepertinya kau orang yang mudah jatuh cinta. Mencintainya hanya melalui tulisan-tulisan yang dia ketik. Mencintainya hanya melalui nasehat-nasehat yang dia tawarkan di ranah publik. Mencintainya hanya melalui karya-karyanya saja. Benarkah kau benar-benar mencintainya? Apa itu bukan disebut sebagai pengagum?
Sekali lagi mungkin kau terlalu bodoh dalam hal cinta. Kau hanya bisa berharap orang tersebut bisa melihatmu lebih jauh. Tapi bagaimana bisa? Kau mungkin tak pernah terlihat dalam pandangannya. Kau hanyalah angin yang sekedar lewat, dan hanya angin biasa, bukan angin semilir yang menyejukannya.

Masihkah kau berharap padanya?

Entah apa yang ada di dalam pikiranmu hingga setiap malam kau hanya mendoakannya. Kau selalu menyebut namanya dalam doa. Berharap Sang Maha Cinta bisa memperkecil sekat antara keberadaanmu dan keberadaannya. Ya, aku tahu memang hanya dengan cara itu kau bisa mencintainya dalam diam. Semua kau serahkan kepada Sang Pemersatu Insan. Kau juga tidak boleh takut kehilangan jika memang kau benar-benar tidak bisa dipertemukan dengan orang itu.

Semoga dengan mencintainya, kau tidak pernah lupa untuk mencintai-Nya
Karena cinta untuknya, tak boleh lebih besar dari cinta kepada-Nya

Satu hal yang ingin ku tanyakan lagi padamu?

Bahagiakah kau saat mencintainya?
Ya karena bahagia itu sederhana. Aku pun hanya akan mencintai dengan sederhana. Mencintai dalam diam-seperti Fatimah dan Ali. Mencintai lewat karya-karyanya. Melihatnya selalu tersenyum dengan baik pada gambaran piksel yang terbatas. Melihat aktivitasnya melalui kaca mata maya. Tanpa satu orang pun yang tahu. Takkan membuat sakit hati. Takkan ada dendam. Akan menjadi realita yang indah jika dipersatukan, dan juga akan menjadi kenangan yang indah jika tidak memang tidak tertuliskan dalam Lauh mahfuzh.